Menggapai Kesejukan Beragama (38)

Menghindari Budaya Hasut (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Fenomena hasut semakin marak berbanding lurus dengan semakin maraknya perkembangan sosial media. Seolah-olah hasut-menghasut menjadi pemandangan sehari-hari di dalam dunia maya. Bukan hanya kuantitas tetapi juga kualitasnya.

Hasut berasal dari bahasa Arab dari akar kata hasad-husud, berarti memancing orang lain untuk marah. Dalam bahasa Indonesia, hasut memiliki makna yang mirip yaitu memprofokasi seseorang untuk menyerang orang atau kelompok lain.

Berita Terkait : Menghindari Budaya Hasut (2)

Penghasut mirip pengertiannya dengan provokator. Bahkan kedua kata ini sering disamakan. Hanya saja hasut pengertiannya bisa lebih luas. Provokator konotasinya lebih banyak melakukan kegiatannya dengan cara-cara agresif, seperti membakar emosi umat dengan memaki-maki, berdemonstrasi, menyerang dengan menggunakan berbagai media misalnya dengan spanduk, pamflet, brosur, karikatur, dan rapat-rapat umum. Akan tetapi penghasut bisa melakukan kegiatannya sebagai aktor intelektual dalam suatu gerakan provokatif.

Boleh jadi penghasut tidak terlibat dalam aksi tetapi mengatur dan mengendalikan dari luar. Ia mensuplai ide-ide dan mungkin juga dana dan fasilitas.

Berita Terkait : Mengatur Jarak Sosial Agama dan Negara (2)

Perbuatan hasut dalam Islam termasuk penyakit batin yang bisa menyerang karakter seseorang. Ada orang yang karakternya memang senang melihat orang lain jatuh dan bermasalah tetapi sakit jika melihat orang lain senang.

Imam Al-Gazali membahas panjang lebar bahaya hasut dan hasut digolongkan ke dalam salah satu penyakit hati yang berbahaya. Inti sifat hasut ialah mengharapkan hilangnya kenikmatan dari orang dan gembira dengan bencana yang menimpa orang yang menjadi sasarannya.

Berita Terkait : Mengatur Jarak Sosial Agama dan Negara (1)

Agak aneh, budaya inti bangsa kita sangat anti terhadap hasut-mengha-sut tetapi tiba-tiba marak di dalam masyarakat terutama di era pasca reformasi. Seseorang yang berhasil meraih kedudukan penting dipandang wajar jika ada kelompok lain yang menjelek-jelekkannya dengan cara menghasut orang lain untuk ikut menjelekkannya. Belum tentu yang bersangkutan mengincar jabatan itu, tetapi hanya menjadi kesenangannya. ***