Makna Pelukan Surya Putra

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertemuan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman minggu lalu menimbulkan pertanyaan publik. Muncul berbagai spikulasi baik yang bernada positif maupun kontra atas rangkulan politik tersebut. Presiden Jokowi dan Surya Paloh saling sindir dalam “joke” dan candaan politik. Jokowi tidak pernah dirangkul Surya Paloh semesra dengan Sohibul Imam. Tidak ada yang salah dalam rangkulan politik antar ketua umum partai. Hal yang sama juga per nah dilakukan oleh Prabowo saat melakukan safari politik ke Jokowi dan Megawati.

“Ada apa di balik rangkulan politik itu, Mo?” tanya Petruk penasaran. Romo Semar hanya tersenyum. Kopi pahit dan penganan Serabi Solo ikut menemani Semar di pagi yang cerah. Kepulan asap rokok klobot menambah suasana hangat di Padepokan Klampis Ireng. Semar membandingkan rangkulan politik Harjuna dan Surya Putra atau yang dikenal dengan Adipati Karna sebelum keduanya maju dalam perang Baratayuda.

Berita Terkait : Ahok Is Back

Kocap kacarito, Perang Baratayuda adalah perang saudara antara Klan Kurawa dan Pandawa memperebutkan tahta kerajaan Hastina. Baratayuda merupakan perang kebenaran melawan kebatilan. Prabu Duryudono sebagai pemimpin Kurawa ingkar janji tidak mau menyerahkan separo kerajaan Hasti na kepada Pandawa. Para sesepuh keraja an seperti Resi Durna dan Bisma sudah mengingatkan Duryudono untuk menyerahkan haknya kepada Pandawa. Hal ini untuk mencegah pertumpahan darah antar keluarga Barata di Padang Kuru Setera. Akan tetapi Duryudono keras kepala tidak mau mendengarkan saran bijak untuk mencegah terjadinya perang saudara.

Adipati Karna adalah kakak tertua Pandawa yang lahir dari Dewi Kunti. Cinta terlarang Dewi Kunti dengan Bethara Surya menyebabkan bencana bagi Karna. Konon untuk menjaga kesucian Dewi Kunti, lahirnya jabang bayi melalui telinga. Maka setelah jabang bayi lahir diberi nama “Karna” yang berarti telinga. Karna juga dinamakan Surya Putra karena anak dari Bethara Surya, dewanya matahari. Jabang bayi oleh Kunti dibuang hanyut ke sungai Gangga. Bayi yang tidak berdosa tersebut diketemukan oleh Adirata seorang kusir Hastina. Kelak setelah dewasa, Karna bergabung dengan Kurawa dan bergelar Adipati Karna.

Berita Terkait : Larangan Memakai Makutho

Dalam perang Baratayuda, Karna memilih bergabung dengan Kurawa melawan adik- adiknya Pandawa. Kesaktian Adipati Karna tanpa tanding. Menurut Kresna sebagai botohnya Pandawa, yang mampu menandingi kesaktian Karna adalah Harjuna. Keduanya memiliki kesaktian seimbang khususnya dalam memanah. Sebelum mereka maju ke medan laga, Surya Putra datang menghampiri Harjuna. Keduanya saling peluk sambil meneteskan air mata. Keduanya merasa berdosa sama-sama anak yang dilahirkan dari rahim Dewi Kunti harus saling membunuh di Kuru Setera.

Maksud Adipati Karna merangkul mesra Harjuna sebenarnya hanya ingin pamitan dan minta maaf karena dirinya tidak bisa gabung dengan Pandawa. Dalam perang Baratayuda, Karna memilih berada di pihak Kurawa sebagai ke kuatan penyeimbang. Kalau Kurawa tidak memiliki kekuatan seperti Karna, kemungkinan besar Kurawa memilih mundur tidak jadi perang. Karena kesaktian Kurawa tidak sebanding de ngan Pandawa. Sehingga tujuan akhir dari perang Baratayuda yakni untuk membasmi kebatilan tidak akan terjadi.

Berita Terkait : Adegan Paseban Jawi

“Rangkulan Surya Putra dengan Harjuna sangat menyentuh, Mo,” celetuk Petruk. “Keduanya memiliki visi mulia dalam menegakkan kebenaran,” papar Romo Semar. Komunikasi antar elite politik diperlukan untuk menyamakan visi dan mengakomodasi setiap adanya perbedaan. Kemesraan antar ketua umum partai harus terus dibangun untuk memupuk silaturahmi. Dan kemesraan antar tokoh partai janganlah cepat berlalu untuk Indonesia yang lebih baik. Oye ***