Membaca Trend Globalisasi (37)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam : Trend Jilbab (6) : Wacana Jilbab Dalam Fikih

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam artikel terdahulu ayat-ayat jilbab atau himar turun untuk menanggapi model pakaian perempuan ketika itu menggunakan pentup kepala (muqani’) tetapi tidak menjangkau bagian dada, sehingga bagian dada dan leher tetap kelihatan.

Menurut Muhammad Sa’id al- ‘Asymawi, Q.S. al-Nur/24:31 turun untuk memberikan pembedaan antara perempuan mukmin dan perempuan selainnya, tidak dimaksudkan untuk menjadi format abadi (uridu fihi wadl’ altamyiz, wa laisa hukman muabbadan).

Berita Terkait : Trend Jilbab (6): Jilbab Sebagai Multi Fenomena

Ayat jilbab, juga turun berkenaan seorang perempuan terhormat bermaksud membuang hajat di belakang rumah di malam hari tanpa menggunakan jilbab, maka datanglah seorang laki-laki iseng mengganggunya karena dikira budak. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya Q.S. al-Ahdzab/33:33.

Menurut Al-‘Asymawi dan Muhammad Syahrur, terkait dengan alasan dan motivasi tertentu (illat); karenanya berlaku kaedah: Suatu hukum terkait dengan illat. Dimana ada illat di situ ada hukum. Jika illat berubah maka hukum pun berubah. Ayat hijab, sangat terkait dengan keterbatasan tempat tinggal Nabi bersama beberapa isterinya dan semakin besarnya jumlah sahabat yang berkepentingan dengannya.

Baca Juga : Pebulutangkis Junior Indonesia Borong Empat Gelar di Belanda

Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan (perlu diingat, ayat hijab ini turun setelah kejadian tuduhan palsu/hadits al-ifk terhadap ‘Aisyah), Umar mengusulkan agar dibuat sekat (Arab:hijab) antara ruang tamu dan ruang privat Nabi.
 Selanjutnya