Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam suatu riwayat dikisahkan ada seorang alim dan ahli ibadah yang semata-mata mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia banyak mengasingkan diri dari keramaian demi untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi dosa dari orangorang awam.

Suatu ketika seorang pelacur mencari ulama untuk curhat dan sekaligus meminta nasehat bagaimana meninggalkan dunia hitam yang selama ini digelutinya. Ia juga akan menanyakan masih adakah harapan Tuhan memaafkan dan menerima tobatnya setelah malang melintang hidupnya di tengah lumpur dosa.

Berita Terkait : Hindari Egoisme Spiritual

Mendengarkan keinginan itu, maka sang ahli ibadah itu menolak harapan perempuan nakal itu dengan mengatakan, aku tidak mau menodai diriku dengan berkomunikasi dengan orang ko tor seperti itu.

Mendengarkan cerita itu maka Nabi mengatakan sang ahli ibadah itu penghuni neraka dan perempuan yang karena ketulusannya ingin bertaubat adalah penghuni syurga.

Berita Terkait : Jangan Mengeksploitasi Ayat (2)

Cerita ini mengingatkan kita kepada Q.S. Al-Ma’un, yang intinya menjelaskan kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan tetapi ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu.

Bahkan dalam surah itu juga dinyatakan celakalah bagi orang shalat yang shalatnya tidak membawa dampak sosial ke masyarakatan.

Berita Terkait : Jangan Mengeksploitasi Ayat (1)

Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat di mana ia berada malah dikhawatirkan terjebak dengan apa yang disebut dengan ego spiritual.***