Ahok Is Back

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) didapuk menjadi Komisaris atau direksi BUMN di sektor energi. Pro dan kontra atas penunjukan Ahok pun rame. Ahok diharapkan mampu memangkas jalur birokrasi di BUMN menurut pendapat Ahoker. Di sisi lain bagi yang menentang pengangkatan Ahok, justru kehadiran Ahok menjadi sumber konflik. Sosok Ahok mantan Gubernur DKI kalau bicara terkenal ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling. Saya punya pengalaman diskusi dengan Ahok mengenai dampak lingkungan pembangunan reklamasi pantai. Diskusi sambil makan kwitau goreng membuat perdebatan gayeng dan dinamis. Ahok memiliki watak keras dan tegas dalam melihat permasalahan yang ada. Karena Ahok tahu persis kuatnya jalur birokrasi di Indonesia ibaratnya kokohnya tembok Cina yang susah ditembus.

“Mungkin itu alasan Mas Eric Tohir mengajak Ahok membenahi birokrasi BUMN energi, Mo,” celetuk Petruk sambil cengengesan. Romo Semar tersenyum sambil mantuk-mantuk. Semar sebetulnya kurang semangat untuk menanggapi komentar Petruk. Semar sedang menikmati sarapan nasi jagung dan urap daun papaya sambil menyeruput kopi pahitnya. Romo Semar ingat betul pesan Resi Suwandhagni kepada anaknya Bambang Sumantri sebelum diangkat menjadi abdi di kerajaan Maespati.

Berita Terkait : Bercermin Kepemimpinan Abiyasa

Kocap kacarito, Bambang Sumantri mendapat kabar dari Prabu Harjuna Sosrobahu kalau dirinya diminta menghadap karena mau diangkat menjadi abdi kerajaan Maespati. Sumantri sempat bingung mendapat tawaran abdi dalem kerajaan. Bambang Sumantri minta saran dan pertimbangan kepada Resi Suwandhagni di padepokan Jatisrana sebelum memutuskan tawaran sang prabu. Resi Suwandhagni sebagai orangtua Sumantri mendukung rencana anaknya mengabdi di kerajaan Maespati. “Seorang satria tidak boleh menolak kalau raja atau negara memanggil,” kata Sang Resi kepada Sumantri.

Resi Suwandagni berpesan tiga hal kepada Sumantri. Pertama, seorang abdi harus memiliki “kagunan” atau memberikan nilai tambah dalam menjalankan tugas yang diembannya. Kedua, abdi yang baik harus memiliki “koyo” atau keahlian di bidangnya. Seorang abdi kerajaan tidak cukup hanya pandai dan pintar. Selain pandai harus mengerti permasalahan yang dihadapinya. Seorang abdi yang pandai dan mengerti permasalahan yang dihadapinya akan melahirkan abdi yang bijaksana. Dan yang terakhir, abdi kerajaan harus “sembodo” yang dimaksud dengan sembodo yaitu loyal terhadap pimpinan dan memiliki dedikasi tinggi.

Berita Terkait : Makna Pelukan Surya Putra

Hati Bambang Sumatri sudah bulat untuk mengabdi di Maespati setelah mendapat wejangan dari Resi Suwandhagni. Sumantri langsung menghadap Sang Prabu Harjuna Sosrobahu begitu sampai di Kerajaan. Tugas pertama Bambang Sumantri adalah melamar dan memboyong Dewi Citrawati dari Kerajaan Magada sebagai calon permaisuri Prabu Harjuna Sosrobahu. Tugas ini tidaklah mudah bagi Sumantri. Karena ada beberapa raja yang memiliki niat yang sama untuk menyunting Dewi Citrawati. Sebelum memboyong Dewi Citrawati, Bambang Sumatri harus mengalahkan raja-raja yang ingin memperebutkan sang putri. Konon Sumantri berhasil memboyong Dewi Citrawati. Dan karier Bambang Sumatri melesat menjadi patih kerajaan menjadi orang nomor dua di Maespati.

“Kalau Ahok memiliki guno, koyo dan sembodo kenapa tidak dicoba, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. Permasalahan negeri ini sudah sangat komplek khususnya BUMN energi. Sudah hampir dua puluh tahun kita ini masih terus impor minyak untuk keperluan dalam negeri. Lifting minyak kita stagnan karena tidak ada investasi membuka sumur-sumur baru. Tugas utama Kementerian BUMN saat ini adalah mencegah dampak pelemahan ekonomi global. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi kita ikut melemah. Sektor energi adalah “back bone” pertumbuhan ekonomi. Diperlukan pemimpin BUMN energi yang berani berpikir “out of the box” dalam menghadapi permasalahan. Oye. ***