Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Orang atau kelompok yang melecehkan atribut agama orang lain bisa dikenakan pasal berlapis di dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia. Agama Islam sendiri tidak mengizinkan menghina atau melecehkan agama orang lain. Bagaimana sakitnya kalau agama kita dilecehkan, maka seperti itu sakitnya orang lain jika atribut keagamaannya dilecehkan.

Sudah banyak contoh orang terjerat hukuman penjara karena menghina atribut keagamaan orang lain. Karikatur yang menghina Nabi Muhammad misalnya, sudah dikenakan hukuman. Balutan lembaran mushaf Al-Qur’an pada terompet yang dijual di pinggir jalan beberapa waktu lalu juga menimbulkan kehebohan umat karena Al-Qur’an bagi umat Islam adalah kitab suci yang amat dihormati.

Berita Terkait : Rekayasa Survei (1)

Terompet itu sendiri di dalam beberapa kitab fikih yang dikatakan bersumber dari hadis Nabi, dilarang karena dianggap bunyi-bunyian (mazamir) yang memanggil setan. Terompet sering digunakan untuk menjemput tahun baru Masehi, bukan tahun baru Islam, yaitu tanggal 1 Muharram.

Dengan demikian pembuatan terompet tahun baru yang menggunakan bahan baku dari sampul Al-Qur’an dapat dikategorikan ungkapan yang bisa mengundang kebencian umat (Religious-Hate Speech/RHS), bahkan bisa meningkat menjadi penghujatan (blasphamy) yang diancam pidana.

Berita Terkait : Berikan Haknya Umat Lain (2)

Contoh lain, penempatan kitab suci Al-Qur’an di rak paling bawah, sementara di rak bagian atasnya buku-buku biasa, atau di mushaf Al-Qur’an dicampur baurkan dengan buku-buku komik di dalam pelelangan buku. Apalagi jika dengan sengaja menduduki mushaf Al-Qur’an, itu semua dapat dikategorikan manifestasi RHS, karena membuat orang lain, terutama para pencinta Al-Qur’an bisa marah. ***