Menggapai Kesejukan Beragama (47)

Jangan Melecehkan Atribut Agama Lain (2)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Akhlak umat Islam terhadap Al-Qur’an sangat sopan. Bahkan difahami dari ayat: La yamassahu illal muthahharun (Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan/Q.S. Al-Waqi’ah/56:79), tidak boleh menyentuhnya sebelum berwudhu. Perempuan menstruasi juga dilarang memegang mushaf itu.

Sebagian umat beragama sangat sensitif jika atribut-atribut keagamaannya dihina atau dilecehkan. Setiap umat beragama merasa berkewajiban untuk memelihara dan menghormati atribut dan identitas keagamaannya.

Baca Juga : Besok, Kongres Biasa PSSI Akan Digelar di Bali

Bisa saja orang yang sangat santun dan friendship tiba-tiba galak jika martabat dan kesucian atribut keagamaannya diusik.

Boleh jadi ia seorang preman atau pekerja kasar yang mungkin jarang menunaikan kewajiban ajaran agamanya, tetapi jika ajaran agamanya dilecehkan mereka bisa lebih dahulu emosi. 

Baca Juga : Antisipasi Penyebaran Demam Babi Afrika, Kementan Latih Petugas 17 Provinsi

Kita perlu sangat hati-hati soal atribut agama, sebab boleh jadi menurut kita adalah biasa tetapi penganut agama lain yang memiliki atribut keagamaan itu luar biasa dan bisa memancing kemarahan dan kebencian.

Pelecehan atribut agama bisa terjadi karena di luar kesengajaan, seperti dulu pernah terjadi merek dagang sebuah sepatu memasang logo yang mirip tulisan arab “Allah” di bagian bawah sepatu akhirnya menuai protes dari umat Islam.

Baca Juga : Cegah Virus Corona, Jokowi: Cek Setiap Orang yang Datang dari Luar Negeri

Untung saja pemilik perusahaan sepatu itu segera menarik produk sepatu yang sudah terlanjur dilempar ke pasar. Kasus lain pernah terjadi bekas sajadah dijadikan kesek di depan kamar mandi dan sempat menimbulkan kemarahan warga sekitarnya.

Meskipun bekas sajadah dan mungkin sudah tua, secara moral tetap tidak etis menjadikannya sebagai keset, apalagi di depan kamar mandi. Bagaimana pun juga sajadah itu bekas tempat sujud hamba Tuhan kepada Tuhannya. Apalagi jika sajadah itu bergambar Ka’bah atau Masjid Haram. ***