Menggapai Kesejukan Beragama (48)

Rekayasa Survei (1)

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Salah satu fenomena menarik dalam metode penyampaian informasi dekade terakhir ini ialah pendekatan induktif-kuantitatif. Masyarakat cenderung lebih menerima argumentasi yang dipaparkan dengan pendekatan induktif-kuantitatif daripada pendekatan kualitatif-deduktif.

Masalahnya ialah ada sejumlah ahli survei sengaja merekayasa angka-angka untuk mendukung sebuah gagasan tertentu. Yang agak rawan ialah survei terhadap fenomena kehidupan beragama, khususnya fenomena kelompok radikalisme agama.

Berita Terkait : Rekayasa Survei (2)

Bermacam-macam tujuan dan motif survei tersebut. Ada untuk kepentingan akademik seperti tesis atau disertasi, ada untuk kepentingan kebijakan pemerintah, dan ada untuk proyek NGO, dan lain-lain.

Survei atau penelitian terhadap sebuah fenomena keagamaan adalah wajar, tetapi jika tujuan survei itu tendensius, misalnya untuk menunjukkan data-data kuantitatif guna menunjukkan kelemahan kelompok agama atau aliran tertentu, apalagi dengan mempermainkan metodologi survei, misalnya merekayasa sampel dan informan.

Berita Terkait : Jangan Melecehkan Artribut Agama Lain (1)

Ada sejumlah survei yang dilakukan oleh kelompok pemula, tanpa menguasai metodologi yang benar, lalu mereka mengumpulkan data-data dan merekam fakta-fakta tanpa diikat oleh sebuah etika metodologi survei yang benar, maka hasilnya bisa membuat keresahan di dalam masyarakat.

Tidak jarang terjadi hasil survei membuat suatu kelompok agama tertentu tersinggung bahkan marah, karena apa yang menjadi kenyataan tidak sama dengan yang disimpulkan di dalam survei.

Berita Terkait : Berikan Haknya Umat Lain (2)

Sebaliknya juga bisa terjadi sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat buruk tetapi diadakan survei bohongan untuk mengelabui publik bahwa persoalan itu masih dalam batas yang wajar dan terkendali, meskipun sesungguhnya sudah sangat serius. Hal ini juga melanggar kode etik survei dan berpotensi meinmbulkan masalah lain. ***