Menggapai Kesejukan Beragama (48)

Rekayasa Survei (2)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perlu diingatkan bahwa siapapun yang melakukan survei atau penelitian tentang fenomena keagamaan harus hati-hati, karena dampak dari sebuah kesimpulan yang keliru bisa menimbulkan sesuatu yang di luar perhitungan banyak orang. Salah satu contoh survei di tahun 1980 an mengungkapkan angka buta hurus Al-Qur’an di Indonesia mencapai 80%.

Pengumuman hasil survei ini menimbulkan kekagetan di dalam masyarakat yang berujung permintaan maaf dari kelompok yang melakukan survei, karena ternyata metodologi yang digunakan sangat keliru.

Berita Terkait : Jangan Mendelegitimasi Peran Agama Lain

Dalam kesempatan lain, sebuah hasil survey di salah satu kota yang selama ini diklaim penduduknya sebagai kota paling religius mengungkapkan, tiga dari lima remaja putri tidak perawan lagi. Tentu saja membuat heboh warga masyarakat setempat karena pemberitaan itu.

Jika keliru di dalam melakukan survei terhadap fenomena sosial non agama mungkin dampaknya tidak terlalu luas. Mungkin reaksinya hanya sesaat dan masyarakat cenderung tidak peduli.

Berita Terkait : Rekayasa Survei (1)

Namun jika survei fenomena keagamaan yang keliru atau salah secara metodologis, maka dampaknya bisa serius, apalagi jika yang melakukan survei itu tidak seagama dengan komunitas yang diteliti.

Tentu kita masih ingat kasus Tabloid Arswendo beberapa tahun lalu yang menempatkan Nabi Muhammad jauh di bawah orang-orang tertentu, terang membuat umat Islam Indonesia marah. Akibatnya Arswendo harus menjalani hukuman penjara.

Berita Terkait : Jangan Melecehkan Artribut Agama Lain (1)

Umat Islam marah karena tidak tega Nabi kesayangannya ditempatkan jauh di bawah artis atau disetarakan dengan pemimpin negara. Tidak berbeda dengan agama-agama lain, Islam juga melarang umatnya melakukan manipulasi data dan rekayasa survei di dalam mengungkapkan sebuah fenomena.

Dalam mengugungkapkan sebuah fenomena dan kenyataan, Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Walyaqulu qaulan sadida” (“… dan hendaklah mereka mengungkapkan dengan ungkapan yang benar”/Q.S. An-Nisa’/4:9). Ayat lain mengingatkan kita untuk selalu melakukan check and and recheck kebenaran data dan fakta sebelum diekspose: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurat/49:6).  ***