Bercermin Kepemimpinan Abiyasa

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Proses impeachment terhadap Presiden Trump sejauh ini tidak ada bukti kejahatan dan penyalahgunaan kekuasaan. Partai Republik kembali mencalonkan Trump untuk kedua kali. Walaupun kelompok anti-Trump menuduh kepemimpinan Trump telah menghancurkan demokrasi Amerika dengan kebijakan anti lingkungan.

Lain halnya dengan usulan wacana penambahan jabatan Presiden kita dari dua periode menjadi tiga periode. Wacana amendemen UUD 1945 semula hanya memasukkan GBHN, menjadi liar dengan penambahan masa jabatan Presiden menjadi tiga periode.

Selain menimbulkan kegaduhan baru, usulan penambahan jabatan presiden tiga periode berpotensi menghancurkan tatanan demokrasi kita. “Ini hanya “testing water”, Mo. Apakah masyarakat dapat menerima usulan penambahan jabatan Presiden tiga periode,” celetuk Petruk sok tahu.

Romo Semar kurang semangat menanggapi komentar Petruk. Romo Semar sedang galau dengan banyaknya warung-warung tutup di padepokan Klampis Ireng. Dampak melambatnya perekonomian global telah berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Semar ingat betul ajaran Abiyasa saat memegang tahta Hastina.

Berita Terkait : Amendemen `Noto Projo`

Kocap kacarito, perkawinan Prabu Sentanu dengan Durgandini melahirkan dua putra yaitu Citranggada dan Wicitrawirya. Perkawinan sebelumnya Sen tanu dengan Dewi Gangga menurun kan Dewabrata atau Bisma. Dewabrata telah bersumpah tidak ingin menjadi raja di Hastina.

Bisma merelakan tahta kerajaan diberikan kepada adik tirinya Citranggada dan Wicitrawirya. Prabu Wicitrawirya tidak lama memegang tahta kerajaan Hastina karena keburu mangkat.

Untuk menghindari kekosongan kepemimpinan, Durgandini menunjuk Abiyasa sebagai penerus tahta Hastina. Abiyasa adalah anak Durgandini dari perkawinan sebelumnya dengan Begawan Palasara dari Padepokan Sapta Arga.

Sebelum dipinang Prabu Sentanu, Durgandini telah menjalin asmara dengan Palasara. Hubungan gelap tersebut melahirkan Abiyasa. Konon Durgandini bersedia menjadi istri Sentanu, asal yang berhak menjadi raja di Hastina adalah anak dari keturunannya. Abiyasa merupakan anak Durgandini walaupun dari perkawinan sebelumnya. Setelah diangkat menjadi Raja Hastina, Abiyasa bergelar Prabu Kresnadipayana.

Berita Terkait : Ahok Is Back

Kerajaan Hastina mengalami zaman keemasan di bawah kepemimpinan Abi yasa. Masyarakat merasakan keadilan dan gemah ripah loh jinawe. Murah pangan dan sandang selama Abiyasa memerintah kerajaan. Abiyasa memiliki tiga anak dari perkawinan tiga istri. Perkawinan Abiyasa dengan Dewi Ambika melahirkan Drestarastra merupakan anak tertua. Drestarastra mengalami cacat netra alias buta. Kelak Drestarastra menurunkan seratus anak yakni satria Kurawa.

Anak kedua Abiyasa adalah Pandu Dewanata yang lahir dari istri keduanya Dewi Ambalika. Pandu menurunkan satria Pandawa. Yama Widura merupakan anak ketiga Abiyasa dari seorang selir.

Setelah Abiyasa lengser keprabon, yang seharusnya berhak menggantikannya adalah Drestarastra. Akan tetapi Drestarastra cacat netra tidak bisa melihat dunia luar. Atas keputusan Abiyasa, tampuk kekuasaan Hastina diberikan anak keduanya Pandu Dewanata.

Drestarastra legowo menerima keputusan Abiyasa yang memberikan kekuasaan kepada adiknya Pandu. Abiyasa lengser keprabon saat Hastina mengalami kejayaan,” komentar Petruk.

Berita Terkait : Makna Pelukan Surya Putra

“Betul Tole, Pemimpin yang bijaksana tahu kapan dia akan lengser. Karena tahta dan jabatan hakekatnya adalah titipan dan amanah. Kearifan falsafah manunggaling kawulo gusti, mengajarkan hubungan yang harmonis antara pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Pemimpin yang dicintai rakyatnya akan selalu dikenang rakyatnya sepanjang masa,” sahut Romo Semar. Oye ***