Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hijrah dan jihad sering disandingkan dalam Al-Qur’an. Kurang lebih lima ayat menyerukan umat Islam untuk berjihad, namun perintah jihad itu selalu diawali dengan perintah hijrah (wa hajaru wa jahadu), yaitu mengungsi ke tempat yang lebih aman, lalu kalau masih terus diusik baru diminta berjuang untuk mempertahankan diri. Seolah-olah kita diingatkan untuk menghindari bentrokan fisik yang bisa menimbulkan banyak korban.

Di antara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut: ”Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (Q.S. At-Taubah/9:20).

Berita Terkait : Antara Hijrah dan Jihad (2)

Bandingkan dengan ayat lain: ”Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (ni`mat) yang mulia”. (Q.S. Al-Anfal/8:74).

Perintah untuk berjihad dalam arti memperjuangkan agama Allah SWT, juga selalu diawali dengan berjihad dengan harta, baru berjihad dengan jiwa (wa jahadu bi amwalikum wa anfusikum).

Berita Terkait : Jangan Mendelegitimasi Peran Agama Lain

Di antara ayat tersebut ialah: ”Berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (QS. At-Taubah/9:20).

Redaksi Tuhan yang secara konsisten menyebut hijrah baru jihad (fisik) dan berjihad dengan harta baru berjihad dengan jiwa menjadi isyarat penting bahwa menyelamatkan jiwa jauh lebih penting dari pada kepentingan apapun, termasuk untuk kepentingan agama Allah SWT. Buktinya Rasulullah SAW sendiri diminta untuk hijrah ke Madinah, bukannya memilih korban bersama ratusan pendukungnya di Mekkah.

Berita Terkait : Rekayasa Survei (2)

Dengan demikian, prinsip jihad sesungguhnya untuk menghidupkan dan menyejahterakan orang, bukannya untuk membunuh atau memelaratkan orang.

Agama Allah SWT dijamin oleh-Nya, sehingga tidak perlu atas nama agama-Nya lantas kita meninggalkan alternatif lain yang meungkinkan kita bertahan hidup, sungguh pun harus memilih strategi mundur selangkah untuk meraih kemenangan abadi dan lebih manusiawi. ***