Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kemenangan yang diperoleh tanpa darah menetes apalagi mengalir, jauh lebih mulia ketimbang kemenangan yang diraih melalui banjir darah. Rasulullah SAW mencontohkan, rela hijrah atau mengungsi ke Madinah tetapi pada saat yang tepat ia mengambil alih kota Mekkah tanpa setetes darah, yang lebih dikenal dengan Fathu Makkah.

Apa yang disampaikan di dalam kurang lebih 10 ayat dan pengalaman nyata Rasulullah SAW tersebut di atas menjadi pelajaran berharga buat kita semua, bahwa jihad yang sesungguhnya adalah untuk meningkatkan martabat kemanusiaan, bukannya untuk meruntuhkan sendi-sendi kemanusiaan.

Rasulullah SAW memiliki pengertian jihad sangat manusiawi. Ia pernah memperingatkan sahabatnya bahwa kalian pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar. Sahabatnya menanggapi, masih adakah jihad lebih besar sesudah perang akbar ini.

Berita Terkait : Antara Hijrah dan Jihad (3)

Rasulullah SAW menjawab, masih ada, yaitu perang melawan nafsu atau perang melawan diri sendiri.Sudah saatnya kita menangkap semangat dan hakekat pemahaman agama tentang makna jihad. Jihad sesungguhnya bukanlah tujuan melainkan metode untuk mencapai tujuan. Jihad dalam arti perjuangan dengan cara mengerahkan kekuatan fisik harus dianggap sebagai perjuangan di tingkat basic.

Perjuangan lebih mulia sesungguhnya adalah per-juangan dengan melalui akal pikiran (ijtihad). Kemuliaan ini pernah diilustrasikan oleh Rasulullah dalam salah satu hadisnya: (Goresan) tintanya para mujtahid lebih mulia daripada (tumpahan) darah para syuhada’.

Jika hadis ini bisa diibaratkan bahwa para syuhada’ adalah mereka para prajurit dan para mujtahid ialah para jenderal. Kematian seorang jenderal setara dengan 10 peleton prajurit dalam ilmu militer. Namun mujtahid belum merupakan puncak perjuangan ideal.

Berita Terkait : Antara Hijrah dan Jihad (1)

Puncak perjuangan sesungguhnya ialah perjuangan yang sudah sampai kepada tingkat konsentrasi dan perjuangan batin, yang biasa disebut mujahadah.Ijtihad dan mujahadah dua tingkat perjuangan yang amat diserukan bahkan disebut sebagai jihad utama oleh Rasulullah SAW.

Allah SWT memberikan apresiasi para pejuang intelektual deng-an mengatakan: Hal yastawi al-ladzizna ya’lamun wa al-ladzina la ya’lamun? (Apakah sama antara orag-orang yang berimu dan orang-orang yang kurang berilmu?).

Ayat ini mengisyaratkan secara halus betapa perlunya meningkatkan kualitas dan kualifikasi jihad kita ke jihad yang lebih tinggi. Banyak perintah lain dalam Al-Qur’an dan Hadis yang menyerukan untuk terus meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan.***