Menggapai Kesejukan Beragama (51)

Ma Limo (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menarik untuk dikaji, mengapa para wali yang tergabung dalam Wali Songo yang hampir semuanya berasal dari Timur Tengah lebih doyan menggunakan bahasa dan atribut lokal, sementara kita yang murni berasal dari kepulauan Nusantara, lebih doyan menggunakan Bahasa dan atribut Arab?

Mereka lebih suka menggunakan istilah-istilah yang hidup di dalam masyarakat lokal daripada menggunakan bahasa Islam yang sudah baku. Termasuk menggunakan berbagai jenis atribut dan kesenian lokal. Mereka juga sering menampilkan lagu-lagu yang bernuansa Jawa dan Sunda.

Berita Terkait : Ma Limo (2)

Bahkan pakaian sehari-hari mereka di dalam berdakwah menggunakan blankon, sarung, dan baju-baju adat lokal. Mereka jarang menggunakan surban atau pakaian Arab.Dalam mengemas konsep dan ajaran Syari’ah, mereka lebih sering menggunakan kemasan bahasa lokal. Mereka lebih sering menggunakan langgam musik Jawa dan Sunda daripada langgam musik Padang pasir. Rata-rata mereka menggunakan Bahasa Jawa dan Sunda di dalam menjelaskan ajaran Islam, walaupun untuk sementara waktu mereka masih menggunakan abjad huruf Arab di dalam menulis.

Beduk yang selama ini lebih merupakan alat kesenian Hindu, digunakan sebagai alat penanda waktu shalat dengan jumlah pukulan disesuaikan dengan rakat shalat fardhu yang akan dilakasanakan. Hingga saat ini seolah tidak sempurna sebuah masjid atau mushalah tanpa beduk.

Berita Terkait : Antara Hijrah dan Jihad (3)

Di antara konsep yang diperkenalkan Wali Songo ialah konsep Mo Limo. Konsep ini salah satu istilah yang amat populer yang pernah diciptakan Walisongo, dalam hal ini Sunan Ampel. “Ma Limo” yang secara harfiah berarti “Ma Lima”, merupakan singkatan dari bahasa Jawa: Moh main, Moh ngombe, Moh maling, Moh madat, dan Moh madon.

Moh main artinya tidak berjudi atau tidak melakukan sesuatu yang bersifat spekulatif dan tidak rasional. Contohnya upaya seseorang mencari rezeki yang banyak melalui jalan pintas tetapi berspekulasi, termasuk mengadu nasib dengan mengandalkan mistik dan mengharapkan hadiah-hadiah yang fantastik tetapi calon pemenangnya masyarakaat secara masif.

Berita Terkait : Antara Hijrah dan Jihad (2)

Judi dalam Islam jelas dilarang di dalam banyak ayat, termasuk dalam Q.S. Al-Maidah/5:90 dan sejumlah hadis.

Walisongo tidak langsung menggunakan teks ayat dan hadis tetapi dipadatkan dengan menggunakan istilah simbolik yang lebih gampang diingat dan dipedomani masyarakat. ***