Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Enkultutasi dan akulturasi Islam dan keindonesiaan terjadi melalui jalan damai yang sangat menakjubkan. Konsekwensi pribumisasi Islam ialah perangkat ajarannya disesuaikan dengan budaya dan kearifan lokal.

Orang Indonesia tidak mesti harus menggunakan cadar, cukup menggunakan penutup aurat ala Indonesia sudah dapat disebut islami. Tidak seorang pun bisa mengklaim bahwa Islam harus identik dengan tradisi dan budaya lokal negara tertentu, sungguhpun budaya itu dari tempat kelahiran Nabi.

Dengan kata lain, ajaran Islam dan budaya Arab tidak identik. Tradisi dan budaya Arab kebetulan merupakan lokus pertama yang menjemput kelahiran Islam.

Berita Terkait : Belajar Kearifanmas dari Walisongo (2)

Adalah wajar jika kemudian ajaran Islam banyak diwarnai oleh tradisi dan budaya Arab. Tradisi dan budaya inilah yang paling pertama mewadahi ajaran dasar Islam.

Tidak heran kalau Imam Malik, salah seorang pendiri imam Mazhab yang mazhabnya dikenal dengan mazhab Maliki, memasukkan Ámal ahlul Madinah (tradisi penduduk Madinah) sebagai salah satu dasar atau rujukan hukum, sebagaimana dibahas di dalam kitab-kitab ushul fikih.

Proses islamisasi dalam lintasan sejarah Islam Indonesia berbanding lurus dengan pribumisasi ajaran Islam. Artinya kesuksesan Islam mengislamkan suatu wilayah diiringi dengan kesediaan Islam mengakomodir budaya dan kearifan lokal sebagai bagian dari ajarannya.

Berita Terkait : Ma Limo (2)

Di sinilah kekhususan Islam karena masyarakat lokal merasakan kehadiran Islam sebagai kelanjutan dari nilai luhur budaya dan kearifan lokalnya.

Islam dengan perangkat ajarannya tidak lagi dirasakan sebagai “nilai asing” yang menggusur tradisi leluhur mereka tetapi sudah menjadi nilai-nilai luhur yang bersumber dari dalam dirinya sendiri.

Para penempuh jalan ini ialah para Walisongo. Mereka semuanya sangat mahir memperkenalkan ajaran Islam melalui kemasan budaya lokal, sebagaimana dijelaskan dalam artikel terdahulu.

Berita Terkait : Ma Limo (1)

Hal ini dimungkinkan karena Islam, selain memiliki nilai-nilai mutlak juga memiliki nilai-nilai yang relatif, yang bisa beradaptasi dengan lingkungan masyarakat. ***