Menggapai Kesejukan Beragama (53)

Belajar Kearifanmas dari Walisongo (2)

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebagaimana hal nya setiap tradisi dan budaya lain, Indonesia juga memiliki nilai-nilai luhur bersifat universal, sehingga bisa diterima di negara-negara lain. Di sinilah wilayah titik temu (encounters) antara Islam dan budaya lokal.

Misalnya, tradisi Halal bi Halal setiap usai bulan puasa, sekarang banyak diadopsi di negara-negara lain menjadi ajang perjumpaan dua sumber nilai ini.

Benturan sering terjadi jika pranata Islam bentukan budaya luar dipaksakan untuk diterima di setiap wilayah. Misalnya Islam dipaksakan identik dengan tradisi dan budaya Arab lalu dipaksakan untuk diterima di setiap wilayah, termasuk wilayah non Arab.

Berita Terkait : Me-Universalkan Kearifan Lokal

Seolah-olah yang paling islami ialah pranata, tradisi, dan budaya Arab, bahkan ada yang membid’ahkan jika ada aspek ajaran Islam melekat pada budaya lokal atau sebaliknya.

Kita bersyukur para pendahulu kita khususnya Wali Songo, menempuh jalan “titik temu” bukan menekankan perbedaan antara keduanya.Dalam tradisi Islam, sepanjang sebuah tradisi dan budaya tidak bertentangan dengan substansi ajaran Islam, maka itu sah saja menjadi “tempat” ajaran Islam mengaktualkan atau mewadahi dirinya.

Contohnya, ajaran Islam menyerukan menutup aurat, tetapi model penutup auratnya tidak mesti menggunakan cadar (chodor dari bahasa Persia berarti kelambu), Abaya (tradisi Syiria), hijab atau jilbab (Arab).

Berita Terkait : Belajar Kearifan dari Walisongo

Perempuan muslimah Indonesia bisa tetap menggunakan model dan pakaian tradisional masing-masing, yang penting terpenuhi substansi ajaran Islamnya sebagai penutup aurat.

Apa itu aurat, di mana batas-batas aurat laki-laki dan perempuan? Tentu saja ini memerlukan kajian tersendiri.Perlu ditegaskan bahwa arabisasi ajaran Islam sama dampaknya dengan dearabisasi ajaran Islam.

Tidaklah proporsional jika ada gerakan yang latah melakukan arabisasi ajaran Islam, seperti tidak proporsionalnya sebuah gerakan indonesianisasi ajaran Islam dengan latah melakukan dearabisasi.

Berita Terkait : Ma Limo (2)

Baik budaya Arab maupun budaya Indonesia, atau pun budaya lainnya, sama-sama memiliki hak budaya (cultural right) untuk mewadahi ajaran non dasar Islam. Semua orang bisa menjadi the best muslim tanpa harus berbudaya Arab. Allahu a’lam. ***