Amendemen `Noto Projo`

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kita telah menikmati buah reformasi untuk memilih Presiden, Wakil Presiden, dan kepala daerah secara langsung. Hampir dua dasawarsa pasca reformasi, kita masih gamang dalam berdemokrasi. Ada kerinduan kembali ke UUD 45 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden oleh MPR.

Salah satu alasan adalah untuk mencegah perpecahan antar anak bangsa akibat dampak pemilihan langsung selama ini. Selain itu demokrasi biaya tinggi menjadi argumen untuk mengusulkan amendemen UUD 45.

Kalau kita mau flashback isi pidato Presiden Soekarno tentang “bagaimana membangun tatanan dunia baru” di Forum Sidang Umum PBB New York pada 30 September 1960, kegamangan berdemokrasi tidak perlu terjadi.

Founding father bangsa ini telah memberi arahan secara jelas dalam berdemokrasi. Yaitu dengan menjabarkan sila keempat dalam Pancasila untuk memilih pemimpin bangsa. Inti dari pidato Presiden Soekarno di PBB terbukti relevan setelah dua puluh tahun kemudian.

Berita Terkait : Bercermin Kepemimpinan Abiyasa

Negara-negara komunisme di Eropa Timur dan Tengah runtuh pada tahun 1980 an dan ditengarai dengan robohnya tembok Berlin. Tonggak kemenangan Era demo krasi liberal di Eropa Timur dan Tengah justru menciptakan ketegangan baru di beberapa kawasan termasuk kawasan Transatlantik.

Dan kebangkitan kekuatan-kekuatan besar yang saling bermusuhan terjadi di mana-mana Sejarah akan berulang, Mo. Kita rindu memilih Presiden melalui voting di MPR,” celetuk Petruk.

Romo Semar kurang bersemangat menanggapi celoteh Petruk. Romo Semar memilih menikmati kopi pahit dan pisang rebus di pagi yang indah di padepokan KlampisIreng. Romo semar ikut manggut-manggut melihat banyaknya staf khusus yang direkrut Presiden dan Wakil Presiden.

Banyaknya staf khusus diharapkan mempercepat tercapai nya visi misi Kabinet Indonesia Maju. Romo Semar turun tangan saat Bethara Guru ingin membatalkan perang Baratayuda antara Kurawa dan Pandawa.

Berita Terkait : Ahok Is Back

Kocap kacarito, Bethara Guru mengubah dirinya menjadi Begawan Kilat Buana dan turun ke kerajaan Hastina. Begawan jadi-jadian tersebut mengutarakan maksud kepada Prabu Duryudono kalau perang Baratayuda bisa dibatalkan.

Menurut Kilat Buana, syarat agar perang Baratayuda batal kalau Semar dan Kresna berhasil dibunuh. Semar dan Kresna merupakan provokator para Pandawa. Dan keduanya harus dibunuh karena sebagai pemicu perang antar darah Barata.

Semar dan Kresna tidak bisa menerima alasan Kilat Buana. Untuk itu Semar berbagi tugas dengan Kresna. Semar gugat ke Shang Hyang Wenang menanyakan apa alasan Bethara Guru membatalkan perang Baratayuda.

Sedangkan Kresna melabrak Kilat Buana yang sedang berada di Hastina. Kresna kalah sakti melawan Kilat Buana. Kresna memilih mundur teratur sambil menunggu Semar dari khayangan. Kedok Begawan Kilat Buana akhirnya berhasil dibongkar oleh Semar.

Berita Terkait : Makna Pelukan Surya Putra

Kilat Buana kembali berubah wujud aslinya yaitu Bethara Guru. Dewa Guru minta ampun ke Semar atas perilaku yang tidak terpuji mengubah kodrat dewata.

Perang Baratayuda harus terjadi karena merupakan perang keadilan antara kebenaran dan kebatilan. Bethara Guru tidak ingin kekuasaannya tersaingi oleh Semar. Apalagi Semar selama ini sebagai pamongnya para satria Pandawa.

“Ujung-ujungnya ada udang di balik batu, Mo. Bethara Guru ingin menguasai jagat raya tanpa ada yang mengganggu,” sela Petruk.

Begitu pula usulan amendemen UUD 45 harus jelas tujuannya. Amendemen untuk kemakmuran rakyat karena rakyatlah yang menjadikan mereka duduk di MPR. Jangan sampai amendemen hanya menyenangkan segelintir elite politik dan untuk bagi-bagi kekuasaan. Oye. ***