Menggapai Kesejukan Beragama (56)

Bersahabat dengan Globalisasi

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jangan pernah memusuhi globalisasi. Sebaliknya, kita perlu bersahabat dengan globalisasi. Jika tidak, maka akan berhadapan dengan berbagai macam ketegangan. Baik yang bersifat internal di dalam diri sendiri dalam bentuk terjadinya kepribadian ganda (split personality) maupun ketegangan dari luar dalam bentuk terjadinya alienasi dan celaan orang banyak.

Yang paling tepat ialah melakukan penyiapan diri di dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dengan kehadiran nilai-nilai global, seperti peradaban millenial dan sebagainya.

Berita Terkait : Menjadi Manusia Proaktif (1)

Trend dan prediksi Al-Qur’an dan hadis tentang globalisasi amat jelas: Sebuah tantangan yang harus dihadapi dengan penuh persiapan. Salah satu misi Nabi Muhammad SAW ialah untuk mentransformasikan umat manusia dari kungkungan fanatisme primordial (qabiliyyah) menuju masyarakat global (ummah).

Dengan demikian, globalisasi menjadi salah satu konsekwensi dan tantangan yang harus dihadapi. Islam sebagai sistem nilai yang berobsesi untuk mewujudkan rahmat dan kasih sayang untuk semesta alam (rahamatan lil-‘alamin).

Berita Terkait : Me-Universalkan Kearifan Lokal

Nilai-nilai ajaran Islam, selain harus melintasi batas-batas geografis juga harus lapis-lapis kultural. Nabi Muhammad SAW begitu optimis memperkenalkan Islam sebagai system nilai terbuka. Banyak langkah yang ditempuh Nabi untuk menyiapkan pangkalan pendaratan Islam sebagai agama global.

Di antaranya, Nabi pernah menyerukan: “Tuntutlah ilmu sampai ke tanah Cina”. Walaupun di sana belum ada muslim, tetapi saat itu negeri Cina sudah mengenal peradaban tinggi. Nabi juga mengirim beberapa tim ekspedisi ke negara-negara Eropa.

Berita Terkait : Belajar Kearifanmas dari Walisongo (2)

Nabi aktif berkorespondensi dengan pusat-pusat kerajaan Super power, seperti Kerajaan Romawi-Bizantium di Barat dan Kerajaan Persia sekarang Iran. Nabi juga pernah menegaskan: Hikmah atau kebenaran ada di mana-mana, maka ambillah karena itu milik Islam.

Nabi juga mengharuskan umatnya, tanpa membedakan kelas dan jenis kelamin untuk menuntut ilmu: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”. Banyak lagi kebijakan Nabi yang bisa dimaknai penyiapan umat untuk menyongsong masyarakat global. ***