Membaca Trend Globalisasi (41) Karakter Khusus Nilai Universal Islam:

Menyikapi Perbedaan

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perbedaan dalam pandangan Islam adalah hukum alam (sunnatullah). Perbedaan adalah karunia yang harus disyukuri, bukan laknat yang harus diratapi. Indonesia ditakdirkan menjadi negara majemuk dan plural.

Kenyataan ini tentu saja bisa menjadi karunia dan asset bangsa yang harus disyukuri. Jika sebauh karunia tidak disyukuri bisa berubah menjadi sumber ancaman, terutama jika para warganya tunduk di bawah kepentingan subyektifitas dan golongan.

Berita Terkait : Sebagai Agama Kemanusiaan

Keberadaan multi etnik dan multi agama di Indonesia sejauh ini masih tampak sebagai kekayaan positif. Tugas generasi bangsa ini berikutnya bagaimana menjadikan kemajemukan etnik dan agama sebaga sebuah kekayaan bangsa.

Dalam Islam sendiri sudah ditegaskan bahwa keberadaan multi etnik dan agama tidak mesti difahami sebagai sebuah ancaman. Sebaliknya Islam menganggapnya sebagai sebuah kekayaan yang bisa mendatangkan berbagai berkah.

Berita Terkait : Membantu Pembangunan Rumah Ibadah Agama Lain

Al-Qur’an pernah menegaskan bahwa: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kalian (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Q.S. Yunus/10:99).


Perhatikan ayat ini menggunakan kata lau (wa lau sya’ Rabbuka), yang dalam kebiasaan Al-Qur’an jika digunakan kata lau, bukannya in atau idza yang memiliki arti yang sama, yaitu “jika”. Kekhususan penggunaan lau adalah isyarat sebuah pengandaian yang tidak akan pernah mungkin terjadi atau terwujud.
 Selanjutnya