Waspadai Ancaman Terorisme Akhir Tahun

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejak kematian Abu bakar Baghdadi, di atas permukaan, tidak banyak perubahan signifikan yang terlihat pada jaringan dan sel-sel pendukung ISIS baik pada lingkup Global, regional maupun Domestik. Meskipun beberapa kelompok aliansi ISIS di negara lain sudah menyatakan Baiat kepada Khalifah ISIS yang baru, Abu Ibrahim Al Quraisi, tetapi era perubahan drastis sebagai penanda kepemimpinan baru ISIS belum tampak.

“Situasi damai” ini hendaknya tidak melemahkan aparat keamanan Indonesia. Sebaliknya, aparat harus tetap ALERT, waspada, terhadap kemungkinan pergerakan sel-sel ISIS yang ingin menunjukkan eksistensinya. Rentang waktu bulan Desember hingga Januari merupakan salah satu waktu kritis akan kemungkinan terjadinya aksi teror. Memang selama ini terdapat 2 (dua) momentum bagus bagi para pengikut paham Salafy Jihadis untuk melancarkan serangan mautnya, yaitu Hari Raya Natal dan pergantian tahun baru masehi.

Berita Terkait : KPK: Antara Pesimisme Dan Optimisme

Di sisi lain potensi serangan terorisme akhir tahun sering dipandang–terutama oleh kelompok LSM -- sebagai pengulangan isu yang [sengaja] diekspos ke publik setiap tahun. Tetapi catatan hitam terorisme di Indonesia menunjukkan setidaknya ada empat peristiwa aksi teror yang terjadi dengan memanfaatkan momentum Natal dan Tahun Baru.

Pada tanggal 24 Desember 2000 misalnya, tepat pada acara kebaktian Malam Natal telah terjadi rangkaian aksi bom secara serentak di beberapa kota di Indonesia. Gereja Kathederal di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, secara mengejutkan mendapat serangan bom. Pelakunya kelompok Imam Samudera cs (kelompok JI) sebagai aksi balas dendam atas kejadian di Ambon dan Poso. Pada tanggal 01 Januari 2002 saat perayaan malam Tahun Baru 2002 telah terjadi ledakan bom di wilayah Bulungan, Jakarta Selatan. Pada waktu yang sama terjadi aksi bom di tiga Gereja wilayah Palu, Sulawesi Tengah. Tanggal 31 Desember 2005 di Palu terjadi serangan bom di sebuah pasar yang menewaskan 8 orang dan mencederai 53 orang lainnya. Motif aksi tersebut dilakukan dengan alasan pasar tersebut ramai dikunjungi umat Nasrani untuk berbelanja perayaan malam Tahun Baru. Tanggal 1 Januari 2016 di Alun-Alun Kota Bandung telah terjadi ledakan bom pada saat perayaan malam Tahun Baru 2016 yang, menurut pihak Kepolisian, dilakukan oleh kelompok JAD Bandung.

Berita Terkait : Ekonomi Yes

Semua catatan tersebut adalah fakta sejarah yang tidak terbantahkan: bahwa momentum Natal dan Tahun Baru seringkali menjadi waktu yang kritis akan serangan aksi terorisme. Narasi tentang ancaman serangan terorisme memang bak pisau bermata dua. Jika diserbarluaskan, bisa menimbulkan rasa takut dan rasa tidak aman di masyarakat, khususnya di kalangan umat Nasrani. Sebaliknya, jika aparat tutup mulut, publik akan punya persepsi situasi sudah aman-aman, tidak usah khawatir. Kalau ternyata terjadi serangan bom lagi, aparat keamanan dan intelijen juga yang akan dikecam habis-habisan.

Kewaspadaan tidak boleh redup, apalagi padam. Mungkin karena itu, dalam rapat terbatas kabinet Kamis pekan lalu, Presiden Jokowi secara khusus meminta aparat keamanan mem berikan rasa aman kepada masyarakat yang merayakan Natal dan Tahun Baru. Bukankah permintaan Presiden mengindikasikan masih adanya ancaman serangan terorisme, sekaligus meminta aparat keamanan untuk tetap waspada?
 Selanjutnya