Jakarta Banjir, Apa Kerja Anies?

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Masa jabatan Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta sudah 2 tahun. Menurut satu lembaga survei, mayoritas warga Jakarta kecewa dengan “prestasi” kerja Anies. Tapi, anies cepat-cepat menepis hasil survei itu. alasannya? Survei itu mengukur pendapat dan perasaan orang; sedang kami bekerja berdasarkan perencanaan dan sejauh mana perencanaan sudah direalisir. Sekitar 70% perencanaan yang kami buat sudah dilaksanakan, kata gubernur sambil “tersenyum pede”

Jadi? Bagus dan sudah maksimal kinerja Pemprov DKI, tegas Anies Baswedan.

Kemarin, tanggal 1 Januari 2020, hari pertama umat manusia di seluruh dunia memasuki tahun baru, seluruh media massa, khususnya televisi, dan media portal sepanjang hari mewartakan banjir mencemaskan yang melanda sebagian besar wilayah DKI akibat diguyur hujan cukup lebat sepanjang malam tutup tahun. Hingga 1 Januari 2020 pagi, hujan masih terus mengguyur Jakarta kendati dengan intensitas lebih rendah.

Beberapa kawasan yang nyaris terendam banjir:

- Sekitar Rumah Sakit TNI al dr Mintoharjo, Jl Bendungan Hilir, banjir masih setinggi paha orang dewasa.

-  Ketinggian air di sekitar perumahan Setneg Cempaka Putih mencapai 3050 cm.

-  Kampus Universitas Boro budur di Jalan kalimalang dengan ketinggian air hingga 40 cm.

Berita Terkait : Luhut, Bertindaklah, Jangan Omong Saja!

-  Banjir di sekitar Perumahan warga di kelurahan Gedong di Pasar Rebo lebih memprihatinkan, mencapai 5070 cm

-  Kelapa gading masih tetap salah satu kawasan Jakarta langganan banjir, kali ini terutama melanda Gading Timur.

- Kawasan Jalan Bambu Kuning, Cengkareng Barat juga terendam dengan ketinggian air mencapai 5060 cm.

- Jalan Pemuda Raya, Jakarta Timur, terutama di depan pertokoan Arion, mobil sulit lewat karena ketinggian air.

- Kawasan Ciledug, terutama kampus Universitas Budi luhur setinggi 0.5 meter lebih. Hingga kemarin pagi, ketinggian banjir meningkat akibat meluapnya kali Deplu.

- Kawasan Sumarecon berubah menjadi “kolam besar” yang tidak bisa dilewaiti sepeda motor, apalagi mobil.

- Pool taksi Blue Bird di Kramat Jati dan Tanah Kusir terendam, sejumlah taxi nyaris tertutup banjir Jalan Pondok Gede Raya berubah total jadi “kolam panjang” hingga ketinggian mendekati satu meter

Berita Terkait : KPK: Antara Pesimisme Dan Optimisme

- Sebagian kawasan Bintaro, terutama kompleks Deplu, kelelep air banjir.

- Jalan Kemang Raya, kawasan elite Jakarta Selatan yang banyak dihuni oleh komunitas bule, lumpuh total karena banjir yang cukup.

- Depan Kampus Universitas Trisakti kembali “merayakan” tradisi banjirnya, menjadi “kubangan raksasa” sehingga menghalangi kendaraan mobil yang hendak menuju bandara Cengkareng dan/atau menuju daan Mogot Raya.

- Bandara Halim Perdana Kusuma sempat ditutup akibat tergenang air.

- Lalu lintas menuju Bandara Soekarno Hatta juga mengalami hambatan serius, karena dari berbagai penjuru genangan air tidak memungkinkan kendaraan mobil lewat. Sejumlah maskapai pesawat terbang terpaksa mem batalkan penerbangannya.

- Sebagian kawasan Jatibening terbenam banjir.

-  Kawasan sekitar Cawang benar-benar jadi wilayah yang menyedihkan karena diterjang banjir.

Berita Terkait : Waspadai Ancaman Terorisme Akhir Tahun

Magnitude banjir Jakarta kali ini mirip-mirip yang terjadi beberapa tahun yang lalu ketika rombongan Presiden SBY terjebak banjir di depan gedung Sarinah, sehingga Presiden harus turun dari mobilnya dan dipindahkan ke mobil Paspampres yang lebih tinggi. Banjir di segala pelosok Ibukota menimbulkan kemacetan di mana-mana. Begitu hebat magnitude banjir, sehingga gojek praktis tidak bisa beroperasi. Banyak warga yang hendak memesan makanan tidak bisa, karena tidak ada sopir gojek yang bisa mengambil pesanan.

Anehnya, banjir kali ini seperti tidak menyentuh kawasan Sudirman dan Thamrin.

Kenapa?

Karena sejak memangku jabatan Gubernur DKI, Pemprov DKI pimpinan Anies Baswedan memang berkonsentrasi pada pelebaran jalan Sudirman, peremajaan trotoar di banyak kawasan Ibukota, khususnya Sudirman dan Thamrin. Upaya memoles sepanjang jalan Sudirman dilakukan habis-habisan dengan biaya gila-gilaan; bahkan adakalanya 2-3 kali dilakukan bongkar pasang. Sudirman hendak “disulap” jadi Orchard Road, Singapura; sekaligus untuk pamer diri kepada para tamu agung, Presiden dan para petinggi pemerintah. Anies tidak peduli dengan kritik tajam dari berbagai pihak tentang upaya mempersolek trotoar, yaitu disfungsi trotoar setelah dibenahi dengan anggaran aduhai: trotoar dijadikan tempat parkir sepeda motor, bahkan mobil dan jualan dengan gerobok. dengan argumentasi “untuk kesetaraan”, Gubernur Anies bahkan membolehkan pedagang kaki-lima berjualan di atas troroar yang baru direhabilitasi.

Lalu, apa yang sudah dikerjakan Pemprov DKI untuk mengatasi ancaman banjir? Praktis NOl.

Pada era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang diprioritaskan sejak awal memangku jabatan Gubernur Jakarta adalah mempersiapkan diri untuk antisipasi banjir dengan, antara lain merehabilitasi sekian banyak sungai/kali yang semakin menyempit karena kedua bantalan sungai makin banyak dihuni penduduk liar, membersihkan saluran air got di segala penjuru Ibukota. kecuali itu, Pemprov memperbanyak pompa air di samping memeriksa kesiapan pompa air yang sudah ada untuk “melawan” banjir.
 Selanjutnya