Luhut, Bertindaklah, Jangan Omong Saja!

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sekitar setengah abad yang lalu, saya belajar Bahasa Spanyol di Kedutaan Besar Republik Argentina di Jakarta. Salah satu guru kami, diplomat senior Kementerian Luar Negeri, mengajarkan satu petuah dari orang pintar yang terdiri atas 4 (empat) frase. Kami diajarkan dalam bahasa Spanyol, bunyinya:

El que no sabe y no sabe que no sabe, es un tonto, huje de el;

El que no sabe y sabe que no sabe es humilde, ensenjale;

El que sabe y no sabe que sabe esta dormiedo, despiertale;

El que sabe y sabe que sabe es un sabio, siguele !

Berita Terkait : Hati Nurani Tidak Bisa Dibohongi

Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:

Barangsiapa tidak tahu dan tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu adalah orang bodoh, tinggalkanlah dia;

Barangsiapa tidak tahu tapi sadar dirinya tidak tahu adalah orang yang jujur, ajarkanlah dia;

Barangsiapa tahu tapi tidak sadar dirinya tahu, dia sedang tidur, bangunkanlah dia;

Barangsiapa tahu dan sadar bahwa dirinya tahu adalah orang pintar, ikutilah dia !

Berita Terkait : Jakarta Banjir, Apa Kerja Anies?

Oleh guru kami, petuah itu ditulis lengkap di papan tulis. Sebagian dari kami mencatat, sebagian cuek saja. Saya sendiri mencatatnya dengan saksama. Petuah ini sangat bagus dan memikat saya. Di banyak kesempatan waktu mengajar di kelas atau bicara di forum seminar, saya kerap “mengeluarkan” petuah ini dan membahasnya dengan murid-murid.

Seorang pemimpin, apalagi pemimpin bangsa, seyogianya memiliki karakter yang ke-4: mengetahui betul permasalahan dan sadar sekali dia paham [dan yakin mampu mengatasinya]. Terhadap pemimpin kategori ke-4 ini, kita harus ikuti dan dukung, sebab dia tipe pemimpin yang pintar/smart [sabio]. Yang paling celaka/ jelek adalah pemimpin kategori pertama: tidak mengetahui permasalahan tapi tidak sadar bahwa ia sebenarnya tidak tahu. Enyahkan/singkirkanlah (HUJE DE EL] pemimpin “jenis” ini. Ia sesungguhnya pemimpin yang BODOH/BLO’ON [TONTO], sok tahu padahal tidak tahu.

Hari Senin kemarin, Presiden Jokowi menggelar rapat terbatas kabinet. Topik yang dibahas, antara lain, soal harga gas untuk industri yang tetap saja tinggi. Jokowi kesal dengan melambungnya harga gas industri.

Luhut Panjaitan, Menko Maritim dan Investasi, langsung menyatakan sependapat dengan Presiden. Menurut Luhut, harga gas industri mahal karena kenaikan harga bahan baku dari sisi hulu. Di hulu migas diduga banyak maling. “Ya dari awal sudah banyak maling di sana!” kata Luhut dengan ekspresi wajah kesal.

Sekadar mengingatkan pembaca, dua tahun setelah menjabat Presiden, Jokowi memerintahkan Luhut untuk secepatnya menurunkan harga gas. Luhut dengan cepat membentuk Satuan Tugas yang beranggotakan sejumlah pejabat dari beberapa instansi terkait. Satu tahun lebih Satuan Tugas berkutat mencoba melaksanakan perintah Presiden ini, hasilnya: NIHIL! Memang ada penurunan harga gas industri, tapi tidak signifikan dan hanya berlaku untuk beberapa industri saja.

Berita Terkait : KPK: Antara Pesimisme Dan Optimisme

Achmad Widjaja, Ketua Koordinator Industri Gas Kamar Dagang dan Industri (Kadin), mengatakan tingginya harga gas di Indoensia akibat panjangnya mata rantai distribusi, belum memadainya infrastruktur gas, serta mahalnya biaya logistik dan banyaknya pedagang (trader).

Harga gas di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan di negara-negara lain. Achmad Widjaja waktu itu memberikan contoh harga gas di beberapa negara tetangga: di Jepang, Korea Selatan, dan China, harga gas berkisar US$ 4 hingga U$ 4,55 per juta MMBTU; di Singapura berkisar US$ 4-US$ 5 per MMBTU dan Malaysia US$ 4,47 per MMBTU. Di Vietnam harga gas masih sekitar US$ 7 sampai US$ 7,5 per MMBTU. Di negara kita harga gas masih bertengger di angka US$ 6 sampai US$ 8 per MMBTU.
 Selanjutnya