Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Apakah perempuan bisa menjadi Ulil Amr? Sebagian ulama dengan tegas menolak perempuan menjadi Ulil Amr, karena itu, mereka menolak perempuan menjadi pemimpin. Alasannya antara lain perempuan tidak boleh menjadi wali, sekalipun sebagai wali hakim.

Dasarnya hanya laki-laki yang memenuhi syarat yang bisa menjadi wali. Sebagian lainnya membolehkan atau memberikan kemungkian perempuan menjadi Ulil Amr, jika dalam suatu negeri masyarakatnya secara obyektif menghendakinya.

Berita Terkait : Perempuan dan Ulil Amr (2)

Alasannya, kepemimpinan saat ini bukan kepemimpinan tunggal tetapi kolektif. Baik negara demokrasi seperti Indonesia, dikenal adanya trias politika, tiga serangkai penyelenggara negara, yaitu kelompok Legislatif (parlemen atau DPR), Eksekutif (pemerintah), dan Yudikatif (yang memiliki otoritas hukum atau pengadilan).

Kepemimpinan kolektif seperti ini diperkenankan oleh mazhab Hanafiah. Letak permasalahannya ialah pemahaman terhadap beberapa ayat dan hadis yang secara sepintas meletakkan otoritas kepemimpinan yang dengan sendirinya menjadi Ulil Amr ialah kaum laki-laki.

Berita Terkait : Antara Ulil Amr dan Ahl Halli Wa Al-`Aqd (4)

Di antara ayat tersebut ialah: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (Q.S. An-Nisa’/4:34) dan sebuah hadis Nabi: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinan itu kepada seorang perempuan” (HR. Bukhari dari Abi Bakrah).

Sepintas lalu, ayat dan hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa dunia politik itu domain laki-laki, bukan domain perempuan. Namun jika kita mempelajari secara kritis keseluruhan ayat dan hadis tentang politik, terutama jika kita mendalami sebab nuzul ayat dan sabab wurud hadis, maka kesimpulan itu tidak tepat bahkan bisa mengelirukan dan mengaburkan semangat umum Al-Qur’an dan hadis.

Berita Terkait : Antara Ulil Amr dan Ahl Halli Wa Al-`Aqd (3)

Banyak sekali ayat bahkan beberapa surah dalam Al-Qur’an yang mengisahkan kesuksesan sejumlah perempuan di dalam dunia politik, khususnya yang kita kenal dengan Ratu Balqis yang dikisahnya dalam dua surah (S. Al-Naml dan S. Al-Anbiya’).

Satu-satunya orang yang pernah mendapat pengakuan dari Tuhan sebagai ”pemilik pemerintahan super power” (laha ’arsyun ’adhim/27:23) dan negerinya dilukiskan dengan baldatun thayyibah wa Rabbun gafur atau negoro kang lohjinawi, toto tentrem kerto raharjo, ialah kerajaan Ratu Balqis. ***