Strategi Setengah Hati Amerika

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Soleimani tidak terukur cenderung setengah hati. Tindakan provokatif AS terlihat minim strategi dan tidak menggambarkan serangan yang sesungguhnya. Berbeda dengan strategi Tiongkok di perairan Natuna. 

Rame gluduke ora ono udane” ramai gunturnya tapi tidak turun hujan. Tiongkok paham betul bagaimana membangun narasi global untuk mengontrol dan meningkatkan pengaruhnya di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Australia, dan Selandia Baru. 

Selain mengamankan kepentingan dagang, Tiongkok berkepentingan untuk membendung kekuatan demokrasi liberal negaranegara Barat. “Lalu sikap kita apa Mo menyikapi manuver negara adidaya tersebut?” celetuk Petruk serius. Romo Semar enggan menjawab pertanyaan Petruk.

Berita Terkait : Semar Mbangun Kerajaan Agung

Semar sedang galau dengan tertangkapnya anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait dengan dugaan suap penetapan anggota DPR terpilih. Kopi pahit dan kepulan asap rokok tingwe seolah tidak mampu mengusir kegalauan hati Romo Semar.

Manuver Tongkok di Natuna dan intervensi AS di Irak mengingatkan konfrontasi antara Kerajaan Prenggondani dan Trajutrisna atas wilayah Tunggarana. Kocap kacarito, secara historis wilayah Tunggarana merupakan kerajaan kecil di bawah kerajaan Prenggondani. Prabu Trembaka adalah raja pertama kerajaan Prenggondani. Sedangkan Prabu Kalapustaka merupakan raja Tunggarana.

Trembaka dan Kalapustaka keduanya adalah murid Prabu Pandu Dewanata, bapaknya para satria Pandawa. Atas usul Prabu Pandu, wilayah Tunggarana diberikan otonomi khusus dan merdeka dari kerajaan Prenggondani. Seiring dengan perjalanan waktu, wilayah Tunggarana dianeksasi oleh Prabu Bomantara raja raksasa dari kerajaan Trajutrisna. 

Berita Terkait : Normalisasi Vs Naturalisasi

Tidak lama berselang, Prabu Bomantara berhasil digulingkan oleh Suteja anak prabu Kresna. Suteja dinobatkan menjadi raja di kerajaan Trajutrisna bergelar prabu Bomanarakasura. Tunggarana memiliki hasil alam melimpah. Selain tanahnya subur, Tunggarana kaya akan bahan tambang uranium sebagai pemasok persenjataan.

Hal ini membuat Prabu Bomanarakasura ingin menguasai wilayah Tunggarana. Prabu Kahana anak Kalapustaka tidak bisa menerima rencana Prabu Bomanarakasura tersebut. Kahana memilih bergabung dengan kerajaan Prenggondani dan minta perlindungan kepada Gatotkaca sebagai penerus tahta Prenggondani. Terjadilah ketegangan politik antara kerajaan Prenggondani dan Trajutrisna. 

Kerajaan Prenggondani lebih berhak atas wilayah Tunggarana. Gatotkaca akan melawan Bomanarakasura. Hampir saja terjadi pertempuran terbuka antara pasukan Prenggondani yang dipimpin langsung oleh Prabu Anom Gatotkaca melawan Bomanarakasura. Prabu Kresna sebagai orang tua Bomanarakasura turun tangan mengatasi krisis politik yang terjadi di Trajutrisna. Begitu pula para Pandawa akan membantu Gatotkaca jika sampai terjadi perang terbuka dengan Bomanarakasura. 

Berita Terkait : Saktinya Baby Lobster

Kresna turun gunung memimpin langsung dialog dengan Pandawa untuk mencari solusi yang terbaik. Akhirnya kedua pihak yang bertikai sepakat bahwa wilayah Tunggarana dikembalikan sebagai otonomi khusus dan Prabu Wahana sebagai rajanya. “Dialog merupakan jalan terbaik untuk mencari solusi ya, Mo,” celetuk Petruk. 

“Betul tole. Setiap permasalahan hanya bisa diselesaikan dengan jalan dialog dan diplomasi yang terukur. Perubahan geopolitik yang begitu cepat harus diantisipasi dengan cepat pula. Selain pandai membaca tanda-tanda zaman, pemilihan strategi yang tepat dapat mencegah terjadinya konflik politik yang berkepanjangan,” sahut Semar. Oye. ***