Isu-isu Islam Kontemporer (23)

Antara Ajaran Islam dan Budaya Arab (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dunia Islam harus berterima kasih kepada bangsa Arab. Nabi kita Muhammad SAW dan para khulafaurra syidun adalah orang Arab. Al-sabiqun al-awwalun, yang pertamakali memasang badan melindungi Nabi dan berjuang keras melanjutkan estafet agama Islam dan mereka dijamin masuk syurga, adalah orang-orang Arab.

Orang-orang Arab juga tidak bisa diingkari jasanya di dalam mentransformasikan warisan intelektual Yunani ke dalam dunia Islam melalui upaya penerjemahan buku-buku dan penyerapan teknologinya.

Bahkan orang-orang Arab amat berjasa membawa Islam ke Indonesia, serta tak bisa dilupakan bahwa para Walisongo yang amat berjasa terhadap pengislaman di wilayah Nusantara, adalah juga turunan Arab.

Berita Terkait : Antara Ajaran Islam dan Budaya Arab (2)

Yang paling penting juga ialah Al-Qurán dan hadis, yang merupakan sumber ajaran Islam, menggunakan bahasa Arab. Namun demikian, tidak berarti Islam dan perangkat ajarannya harus identik dengan budaya Arab.

Tidak seorang pun bisa mengklaim bahwa Islam harus identik dengan tradisi dan budaya Arab. Dengan kata lain, ajaran Islam dan budaya Arab tidak identik. Tradisi dan budaya Arab kebetulan merupakan fokus pertama yang menjemput kelahiran Islam.

Adalah wajar jika kemudian ajaran Islam banyak diwarnai oleh tradisi dan budaya Arab. Tradisi dan budaya inilah yang paling pertama mewadahi ajaran dasar Islam.

Berita Terkait : Bolehkah Menerima Imigran Non-Muslim? (2)

Tidak heran kalau Imam Malik, salah seorang pendiri imam Mazhab yang mazhabnya dikenal dengan mazhab Maliki, memasukkan Ámal ahlul Madinah (tradisi penduduk Madinah) sebagai salahsatu dasar atau rujukan hukum.

Islamisasi suatu negeri yes, tetapi arabisasi bisa dikatakan no. Namun demikian, tradisi dan budaya Arab juga mengandung nilai-nilai universal, yang compatible dengan budaya dan tradisi lain tidak ada masalah.

Seperti halnya tradisi dan budaya Indonesia memiliki juga nilai-nilai luhur bersifat universal, sehingga bisa diterima di negara-negara lain. Misalnya, tradisi Halal bi Halal setiap usai bulan puasa, sekarang banyak diadopsi di Negara-negara lain seperti di kawasan Asia Tenggara, itu tidak ada masalah. ***