Alutsista Dan Honeymoon Jokowi-Prabowo

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Soal anggaran Kementerian Pertahanan R.I. dari dulu memang berita yang sangat sexy, sekaligus menyedot perhatian banyak pihak. Maklum, anggaran Kementerian Pertahanan (Kemhan) sangat besar, salah satu paling besar diantara semua kementerian di negara kita. Dan pameo yang satu ini selalu berlaku di negara Pancasila kita: “ada gula, ada semut”.

Besarnya anggaran Kemhan karena sebagian besar dialokasikan untuk belanja alutsista (alat utama sistem persenjataan) seperti pesawat tempur, kapal pengangkut personel, kapal perang/kapal selam, tank, roket, peluru kendali, senjata, radar, satelit dan lainlain, yang rata rata mahal harganya. Harga alutsista makin melambung dengan semakin canggihnya teknologi militer. Tanpa disadari antarnegara pun kerap jor-joran dalam kepemilikan alutsista berteknologi tinggi. Mahalnya alutsista juga disebabkan kerap hadirnya peran agen/makelar yang tentu minta komisi atas jasanya itu.

Berita Terkait : Pikir 10x Sebelum Pulangkan WNI Ex. Combatant ISIS

Teoritis, seorang Menhan selalu berkilah pembelian alutsista dilakukan berdasarkan prinsip G-to-G. Tapi, dalam praktek, prinsip itu diam-diam kadang dilanggar dengan berbagai macam cara. Pembelian helikopter supermewah AW 101, misalnya, ternyata dilakukan tidak berdasarkan G-to-G, melainkan lewat pihak swasta. Dari semula untuk transportasi VVIP, AW101 dengan kilat di ubah jadi bagian alutsista TNI aU setelah ditolak Presiden Jokowi. Kecuali itu, pengadaan alutsista seharusnya berdasarkan kebutuhan dan ancaman nyata yang dihadapi Indonesia. Pengadaan kapal selam, misalnya, memang penting mengingat Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia.

Tapi, ketika TNI pada 2013 menandatangani kontrak pembelian 153 unit tank leopard buatan Jerman seharga US$ 280 juta, kontroversi muncul di dalam negeri, termasuk di DPR. Untuk apa TNI membeli leopard yang berbobot 63 ton dengan meriam berkaliber 120 milimeter? Senjata superkokoh dengan moncong meriam begitu panjang hanya cocok dipakai untuk pertempuran jarak jauh seperti di gurun sahara. Kapan bangsa kita menghadapi ancaman peperangan berskala raksasa ini, tanya Mayor Jenderal TNI (purn) TB Hasanudin, anggota Komisi I DPR RI waktu itu? Sejak di beli, Leopard nyatanya hanya di simpan di “kandangnya”, sebab ketika dilepas untuk dipamer kan pada upacara HUT TNI ke-74, sebagian jalan yang dilalui Leopard kontan rusak!

Berita Terkait : Sandiwara Apa Semua Ini?

Keputusan Kementerian Pertahanan pada Nopember 2016 untuk meminjam satelit artemis milik avanti juga berakhir dengan fatalisme. Peminjaman tersebut dilakukan untuk mencegah hilangnya hak spektrum lband pada 123 de rajat sebelah timur orbit Bumi. Sebelumnya, posisi tersebut diisi oleh Garuda1, satelit Tanah air berusia 15 tahun yang sudah tidak beroperasi sejak 2015. Terkait dengan kegiatan peminjaman satelit itu, Indonesia setuju untuk membayar avanti sebesar USD 30 juta. Uang tersebut digunakan untuk relokasi serta penggunaan satelit artemis. Permasalahan serius muncul ketika pemerintah/Kementerian Keuangan hanya memberikan avanti uang senilai US4 13,2 juta, tidak sampai setengah dari perjanjian kedua belah pihak. Ketika gagal membayar angsuran berikutnya, Indonesia dibawa ke pengadilan arbitrase internasional di london dan dikenakan penalty sangat besar!

Menteri Pertahanan yang sekarang, Prabowo Subianto, dikritik karena “banyak jalan” sejak dilantik sebagai Menhan. ada kesan, begitu duduk di kursi Menhan, Prabowo langsung “tancap gas” untuk “belanja” alutsista di luar negeri. Ia dan rombongan langsung keliling sejumlah negara, memang sebagian untuk menghadiri pertemuan bilateral dengan rekan Menhan, disamping melakukan diplomasi pertahanan. Pembicaraan dengan para petinggi militer negara-negara yang dikunjungi biasanya mengajak tuan rumah mempererat hubungan pertahanan dan peningkatan kerjasama di bidang alutsista. Di Iran misalnya, Prabowo bertemu dengan Presiden Iran. Dengan para petinggi militer Iran, kedua belah pihak bersepakat untuk kerjasama meningkatkan kualitas SDM TNI, disamping menjajaki pengadaan tank berteknologi canggih. “Tank produksi bersama kedua negara diharapkan sudah bisa dibuat pada 2020,” seolah Menhan sudah mantap untuk membeli sejumlah tank buatan Iran. Padahal, TNI AD tidak pernah mengajukan permintaan tank buatan Iran kepada Mabes TNI!

Berita Terkait : Penculikan Nelayan Indonesia, Itikad Malaysia Diragukan

Ketika mengunjugi Perancis, orientasi Prabowo idem ditto. Bahkan setelah itu langsung beredar kabar bahwa Indonesia siap membeli sejumlah pesawat tempur Perancis yang canggih, tapi bekas. Padahal tentang hal ini, sebelumnya Kemhan sama sekali tidak pernah singgung. Dan sumber A1 saya di Mabes TNI AU mengatakan, tidak ada permintaan pengadaan jet tempur dari Perancis, itu inisiatif dari Kemhan sendiri! Pengalaman pahit beberapa kali menghantam TNI ketika membeli pesawat bekas. Ujung-ujungnya “ngorot” kalau orang Jawa bilang, rugi. Pesawat tempur bekas umumnya tidak memiliki daya gentar dibandingkan pesawat baru. Para penerbang juga memiliki confident lebih tinggi jika menerbangkan pesawat baru.
 Selanjutnya