Wejangan Prabu Jayabaya

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wejangan Prabu Jayabaya masih relevan sampai saat ini, yaitu seorang pemimpin harus berperilaku “ambeg adil paramarta”. Artinya bertindak adil dengan dasar skala proritas dalam menjalankan tugasnya. Prabu Jayabaya mengalami zaman keemasan selama memerintah kerajaan Mamenang Kediri dari tahun 1135 sampai 1157. Kerajaan Kediri rakyatnya makmur  “gemah ripah loh jinawe tata tentrem karta raharja”, karena program “Tujuh Wa”. Ketujuh program “Wa” yang dicanangkan Prabu Jayabaya yaitu wareg atau kecukupan pangan. Wastra terpenuhinya kebutuhan sandang.Wisma atau rumah untuk rakyat. Wasis kebutuhan akan pendidikan. Waras artinya kebutuhan akan kesehatan, Waskita terpenuhinya akan kebutuhan rohani. Dan wicaksana yang berarti perilaku bijak.    

“Apa ada ramalan Prabu Jayabaya, seorang pemimpin yang datang ke Kediri akan lengser keprabon, Mo,” tanya Petruk sambil cengengesan. Romo Semar kurang semangat menanggapi pertanyaan anaknya tersebut. Seperti tidak ada topik lain selain membahas klenik dan mitos yang belum tentu kebenarannya. Munculnya kerajaan abal-abal beberapa waktu lalu belum hilang dari ingatan kita. Sekarang muncul treding pemimpin datang ke Kediri bakal lengser keprabon. Semar justru teringat wejangan Prabu Jayabaya bermanfaat bagi pemimpin masa depan.

Berita Terkait : Di Korsel, Timbun Masker Didenda 500 Juta Rupiah

Kocap kacarito, dalam serat Kakawin Bharatayudha yang digubah oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada zaman Prabu Jayabaya tahun 1157, bahwa kemenangan perang Janggala atas Kediri digambarkan sebagai kemenangan Pandawa atas Kurawa. Prabu Jayabaya merupakan titising Dewa Wisnu dan diceritakan sebagai buyut dari Prabu Parikesit dari kerajaan Hastina. Menurut silsilah tersebut, Prabu Jayabaya masih canggah wareng keturunan para satria Pandawa. 

Dikisahkan bahwa Harjuna menurunkan Abimanyu dari perkawinannya dengan Dewi Sumbadra. Abimanyu gugur di medan perang Bharatayuda dan memiliki anak Parikesit. Yudayana adalah anak turun Parikesit sebagai penerus kerajaan Hastina. Yudayana menurunkan Gendrayana. Sedangkan Gendrayana merupakan bapaknya Prabu Jayabaya yang menjadi raja di Widarba dengan ibukota Mamenang Kediri.

Berita Terkait : Revitalisasi Taman Sriwedari

Prabu Jayabaya kawin dengan Dewi Sara menurunkan Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti. Kelak Jayaamijaya menurunkan raja-raja di tanah Jawa seperti Raja Majapahit, Mataram, Demak dan para pemimpin Nusantara. Sedangkan Dewi Pramesti kawin dengan Astradarma raja dari Yawastina melahirkan Prabu Anglingdarma raja kerajaan Malawapati.

“Kalau begitu pemimpin Nusantara ada keturunan Prabu Jayabaya, Mo?” celetuk Petruk serius. “Bisa saja terjadi, tole,” jawab Romo Semar pendek. Menurut Romo Semar, para pemimpin nasional selama ini masih keturunan trah “Golden Triangle” yaitu segitiga emas pusat kekuasaan Nusantara. Pemimpin dari keturunan trah kerajaan Majapahit, Mataram dan Demak. Sangatlah tidak masuk akal kalau seorang pemimpin berkunjung ke tanah leluhurnya sendiri akan terkena kutukan lengser keprabon. Seorang pemimpin akan “seleh” kalau “salah”. Selama tidak membuat kesalahan fatal dan tidak merugikan rakyatnya seorang pemimpin tidak akan “seleh” atau lengser keprabon. Pemimpin yang baik akan selalu dikenang oleh rakyatnya. Seperti Prabu Jayabaya akan selalu dikenang sebagai pemimpin yang arif, bijaksana dan waskita karena dapat melihat tanda-tanda zaman. Oye