Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ditambah lagi dengan posisi geografisnya berada di posisi silang, dibelah garis khatulistiwa, dengan kekayaan alamnya yang melimpah.

Semenjak zaman prasejarah, kepulauan Nusantara sudah menjadi arena pertemuan isme-isme trans samudra. Bukti-bukti arkeologis dan an tropologis menunjukkan adanya aktivitas luas manusia prasejarah di kawasan ini.

Berita Terkait : Menghayati Nasionalisme Indonesia (2)

Ditemukannnya beberapa fosil manusia purba, seperti Meganthropus Paleojavanicus (Sangiran), Pithecanthropus Robustus (Trinil), Pi thecanthropus Erectus (Homo Erectus), Pithecanthropus Dubius (Jetis), Pithecanthropus Mojokertensis (Perning), Homo Javanensis (Sambung Macan), Homo Soloensis (Ngandong), Homo Sapiens Archaic.

Homo Sapiens Neandertahlman Asia, Homo Sapiens Wajakensis (Tulungagung), dan Homo Modernman. Fosil-fosil tersebut menunjukkan adanya species yang tidak tunggal.

Berita Terkait : Isme-isme Trans Nasional Non Agama (1)

Analisis kehidupan manusia purba Indonesia menunjukkan adanya aktivitas budaya dan peradaban majemuk, sehingga sulit untuk mengatakan bahwa Hindu dan Islam yang begitu banyak memberi bekas di dalam seni, budaya, dan peradaban nusantara, seolah-olah memasuki ruang yang hampa budaya sehingga merekalah yang mengisi kekosongan itu.

Bukti lain menujukkan sistem religi yang bermacam-macam sudah dikenal di kawasan ini. Selain kepercayaan animisme, sudah ada sejumlah daerah sudah mengenal konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti di Sulawesi sudah sejak lama mengenal konsep Dewata Sewwae.***