Geger Anjani Hamil Dan Corona

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketahanan kita menangkal ganasnya Virus Corona di mata internasional harus dijaga kredibilitasnya. Jangan sampai muncul kegaduhan baru terkait pernyataan pejabat maupun stake holder yang justru akan mendegradasi suksesnya menangani epidemi global. Pernyataan resmi ke publik harus terkoordinasi dan terukur. Belajar dari kegaduhan pekan silam, bagi wanita kemungkinan bisa hamil terpapar sperma di kolam renang meski tanpa panitrasi seksual.  

“Sudahlah Mo tidak usah diperpanjang lagi urusan hamil di kolam. Sudah minta maaf dan polemik dianggap selesai,” celetuk Petruk. Romo Semar sebenarnya enggan menanggapi polemik yang terus berganti. Selain menghabiskan waktu dan energi masih banyak masalah yang perlu penanganan segera. Semar prihatin atas tuduhan kita dianggap menyembunyikan informasi terkait penanganan virus Corona. Walaupun sudah dibantah oleh Menkopolhukam, tuduhan tersebut sempat viral pekan silam. Gaduh soal hamil, Semar jadi teringat geger khayangan disebabkan Dewi Anjani hamil saat kungkum di telaga Madirda.  

Berita Terkait : Guyon Maton Pak Menteri

Kocap kacarito, kekerasan dalam rumah tangga Resi Gotama dari pertapaan Dewasana dipicu oleh api cemburu terhadap istrinya Dewi Indradi. Gotama patut cemburu karena istrinya tidak terus terang mendapatkan hadiah perkawinan cupumanik dari Dewa Surya. Sang Resi justru mendapatkan cupumanik dari Dewi Anjani anak perempuannya. Perkawinan Resi Gotama dengan Dewi Indradi melahirkan Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa. Cupumanik hadiah dari Dewa Surya diberikan kepada Dewi Anjani. Akibatnya Subali dan Sugriwa meri dan ingin memiliki cupumanik tersebut. Oleh Sang Resi, Cupumanik dibuang ke tengah hutan dan menjelma menjadi dua buah telaga Sumala dan telaga Nirmala.

Ketiga anak Gotama berebut berlari untuk mendapatkan cupumanik kembali. Mereka pikir cupu jatuh ke telaga Sumala. Terjunlah kedalam telaga Subali dan Sugriwa untuk mencari cupumanik. Tanpa disadari oleh Subali dan Sugriwa, keluar dari telaga dirinya berubah menjadi seekor kera. Sedangkan Dewi Anjani hanya membasuh raut mukanya. Wajah Anjani tumbuh bulu layaknya kera betina. Akan tetapi tubuh Dewi Anjani masih berwujud manusia. Gotama meminta ketiga anaknya bertapa kalau ingin berubah wujud sepirtu semula.

Berita Terkait : Di Korsel, Timbun Masker Didenda 500 Juta Rupiah

Dewi Anjani bertapa seperti katak di telaga Madirda. Tubuhnya yang mulus membuat takjub siapa saja yang memandangnya. Telaga Madirda asri dan sejuk mengundang siapa saja ingin mandi dan berenang. Konon pasangan pengantin baru Rama dan Shinta berenang di hulu telaga. Dewa Guru pernah melihat kemolekan tubuh Dewi Anjani dari angkasa dan mengeluarkan sperma jatuh ke telaga Madirda. 

Kegaduhan timbul ketika Dewi Anjani Hamil. Padahal Anjani masih perawan dan masih suci. Ada yang bilang Anjani hamil karena sperma Dewa Guru yang jatuh ke telaga. Saat Rama dan Shinta mandi di hulu telaga mengeluarkan sperma dan terminum oleh Anjani. Setelah hamil sembilan bulan lahirlah anak laki-laki  berwujud kera putih bernama Hanoman. Sampai sekarang tidak tahu sperma siapa yang melahirkan Hanoman. Dewa Guru mengakui Hanoman sebagai anak angkat untuk meredam kemarahan Hanoman. Begitu pula Prabu Rama mengangkat Hanoman sebagai anak dan diberi nama Rama Dayapati.

Berita Terkait : Wejangan Prabu Jayabaya

“Dewa Guru dan Prabu Rama sangat bijak, Mo. Untuk meredam kegaduhan di Madyapada diakuilah Hanoman sebagai anaknya,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Semar. “Betul, Tole. Seorang pemimpin harus berpikir cepat dan bijak untuk menenangkan suasana. Pintar saja tidak cukup untuk jedi pemimpin bijak. Seorang dikatakan bijak selain cakap secara akademi, harus mengerti permasalahan yang sedang dihadapi. Perpaduan cakap dan mengerti itulah yang dinamakan bijaksana. Tutur kata seorang pemimpin bijak akan menjadi panutan hidup rakyat banyak,” sahut Romo. Oye.