Virus Corona, Jangan Paranoid !

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Per definisi, paranoid bisa diartikan rasa curiga atau ketakutan yang berlebihan, dikejar-kejar sesuatu yang kadang tidak rasional. Paranoid yang berlangsung pada diri seseorang tergolong “mental illness” atau gangguan jiwa.

Begitu Menteri Kesehatan Dr. Terawan Agus Puteranto kemarin sekitar pukul 11:00 secara resmi mengumumkan kepada masyarakat bahwa Indonesia sudah kena virus Corona melalui 2 (dua) WNI seorang ibu berusia 64 tahun dan puterinya 31 tahun, yang bermukim di Depok yang dinyatakan positif terinfeksi virus maut itu, masalah ini menjadi “topik panas” di mana-mana. Dalam tempo hitungan menit, pernyataan Terawan yang panjang itu menjadi viral di seluruh indonesia melalui media massa dan media sosial; ditambah dengan pernyataan Presiden Jokowi sebelumnya di istana yang intinya mengakui 2 (dua) warga negara kita sudah positif terinfeksi virus Corona setelah kontak badan dengan seorang warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia.

Dalam waktu singkat, publik memberikan reaksi ketakutan, bahkan terkesan panik, atau paranoid. Kemarin sore tidak sedikit pasar swalayan diserbu konsumen. Terjadi kemacetan lalu lintas di sekitar pasar swalayan.Mereka seperti panik membeli apa saja dalam jumlah cukup besar yang dinilai penting untuk disimpan di rumah “untuk jaga-jaga”.

Social panic memang fenomena umum yang terjadi di seantero dunia manakala masyarakat tiba-tiba berhadapan dengan peristiwa atau kejadian yang tibat-iba dan dikhawatirkan berdampai luas untuk kehidupan rakyat.Social panic itu berdasarkan instink survival yang dimiliki setiap orang, bahkan menjadi instink terbesar bagi tiap-tiap manusia. Artinya, manusia selalu siap melakukan apa saja demi kelangsungan hidupnya.

Bagaimana kaitan virus Corona dengan instink kelangsungan hidup?

Berita Terkait : Wacana Ngawur Pejabat Kita

Corona adalah virus yang mematikan. Sudah sekian puluh ribu manusia di manca negara yang terkena virus ini sejak “meledak” di Wuhan, RRT lebih dari 5 minggu yang lalu. Asia, khususnya Asia Tenggara adalah kawasan yang paling cepat terinfeksi. Sejak awal Singapura, Filipina, Malaysia dan Thailand sudah dilaporkan jadi korban virus ini. Beberapa hari yang lalu, menurut WHO, Korea Selatan tercatat negara nomor dua yang paling banyak menelan korbannya, lebih dari 3.200 kasus. Yang unik dan nyaris tidak percaya, Italia dengan cepat tercatat sebagai No. 3.

Tapi, sampai 1 Maret 2020, pemerintah kita masih dengan tegas mengatakan virus Corona belum masuk Indonesia. Kasus suspect memang diakui sudah tercatat sekian ratus, namun tidak ada satu warga pun yang positif terinfeksi. Padahal, sebagian masyarakat kita diam-diam sudah menaruh curiga bahwa dari sekian ratus suspect Corona, sudah ada yang positif terinfeksi. Sebagian masyarakat curiga pemerintah sejauh ini menutup-nutupi data sebenarnya. Tatkala pemerintah Arab Saudi menutup pintu warga sekian banyak negara, termasuk Indonesia, untuk menunaikan ibadah Umrah, kita bertanya-tanya, kenapa Indonesia kena blacklist juga? Bukankah pemerintah Arab Saudi tatkala itu sudah menaruh curiga bahwa virus Corona sebetulnya sudah bergentayangan di Indonesia?

Makin kencang kecurigaan sebagian masyarakat, makin kencang pula bantahan yang bersumber dari elemen-elemen pemerintah, termasuk Istana, Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia. Anehnya, kontroversi ini Indonesia sudah kena atau belum justru mendorong kinerja pasar saham dan kurs rupiah kita semakin buruk! IHSG sudah tergerus 5% lebih. Tanggal 28 Februari 2020, Rupiah sudah melorot ke level Rp 14.500, per dolar AS, anjlok dari Rp 13. 400, satu minggu sebelumnya. Kenapa? Semakin kencang pemerintah membantah Corona sudah masuk Indonesia, kenapa semakin buruk kinerja bursa dan rupiah?

Tatkala Menteri Kesehatan kemarin pagi secara resmi menyatakan 2 WNi yang tinggal di Depok positif terinfeksi virus Corona sebagian masyarakat menuding “Betul kan, pemerintah selama ini mungkin menutup-nutupi !

”Tentu, kita percaya pemerintah selama ini bicara SaJUJURNYA, tidak menutupi data yang sebenarnya.

Berita Terkait : Kediri dan Jatuhnya Presiden

Kesenjangan antara “teori” dan “kenyataan” inilah yang menurut hemat kita sumber utama terjadinya panik, bahkan paranoid di masyarakat tidak setelah pengumuman yang diberikan oleh Menteri kesehatan.

Saya masih ingat menjelang pecahnya kisis Moneter tahun 1998, tiba-tiba beredar berita bahwa Oom Liem meninggal dunia di Singapura. Dalam hitungan menit, terjadi kepanikan di kota-kota besar khususnya Jakarta. Mesin-mesin ATM BCA di serbu nasabah. Mereka menguras simpanannya di ATM, karena takut bank swasta terbesar itu akan ambruk setelah ditinggal oleh pemiliknya yang tersohor, Oom LIem.

Social panic kadang berakibat social unrest yang lebih bahaya lagi! Untuk tidak dituduh mengompori masyarakat, kami sengaja tidak menjelaskan apa itu social unrest dan bagaimana kaitannya dengan resminya virus Corona masuk Indonesia.

Yang jelas, dalam situasi panik, tidak sedikit pedagang yang mengambil kesempatan dengan menaikkan harga barang gila-gilaan. Harga masker, misalnya, mendadak melambung. Seminggu yang lalu saya ke satu toko obat. Pemiliknya mengatakan harga masker naik sampai 500%. Harga ini masih murah; maka orang Singapura pun banyak yang datang ke Indonesia khusus untuk membeli masker. Sebuah tokoh online semula menjual hand sanitizer seharga Rp 80.000, -Harga itu kontan meroket jadi Rp 200.000, tidak lama setelah Menkes Dr. Terawan mengumumkan 2 kasus Corona yang kemudian dirawat intensif di Rumah Sakit Penyakit infeksi Suratin di Jakarta Utara.

Untuk itu, kita mengimbau dan mengingatkan masyarakat su paya STOP PANIK, apalagi kena paranoid. Virus Corona memang virus mematikan. Orang yang terinfeksi dengan cepat bisa tewas. Toh, kepanikan dan paranoid sama sekali takkan membantu kita. Justru sebaliknya, paranoid bisa berakibat stress dan distress yang berbahaya. Virus Corona dan akibatnya bisa terus jadi pikiran di otak yang bersangkutan. Akibatnya, daya tahan tubuh orang tersebut melorot dan sangat rentan kena virus membunuh ini.

Berita Terkait : Keprihatinan Menghantui Pemerintahan Jokowi

Pemerintah juga HARUS segera menenangkan masyarakat dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyejukkan, namun jujur. Pemerintah harus bicara apa adanya/transparan”. Yakinkan masyarakat apa saja “senjata-senjata” yang dimiliki pemerintah untuk melawan vius Corona. Para menteri di bidang keuangan juga harus sigap menenangkan dunia ekonomi agar tidak terjadi segama bentuk spekulasi; sekaligus mengingatkan pedagang untuk mencari keuntungan di tengah kesusahan dan kepanikan publik.

Catatan terakhir, masalah virus Corona adalah masalah MAHa SERIUS, karena dampaknya yang mematikan. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya Presiden Jokowi tampil di depan media memberikan keterangan press dengan wajah tertawa seolah berita terinfeksinya 2 WNI sebagai berita yang menggembirakan. Mestinya, Jokowi tampail dengan wajah muram tapi serius. Ja ngan lupa, 2 (dua) WNI yang terkena infeksi Corona tanggal 1 Maret 2020 boleh jadi baru awal dari peperangan panjang atau bencana kemanusiaan dahsyat yang tidak tahu kapan berakhirnya dan bagaimana efek fatal yang diakibatkannya !! ***