Pancasila dan Nasionalisme Indonesia (10)

Antara Politik Islam dan Islam Politik (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Agak sulit memang memisahkan antara politik Islam dan Islam politik. Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat dan sekaligus pemimpin bangsa luar biasa. Bukan hanya selalu sukses dalam medan perang tetapi juga selalu unggul dalam dunia diplomasi.

Dalam dunia diplomasi ia seorang diplomat yang kawakan, disegani kawan dan musuh. Di medan perang ia juga sering tampil sebagai panglima angkatan perang dengan sangat mengesankan semua pihak.

Berita Terkait : Antara Politik Islam dan Islam Politik (2)

Ia seolah membawa dunia diplomasi dan dunia perang yang amat berbeda dengan masyarakat (Arab) sebelumnya, yang sering disebut masyarakat atau negara komunisme. Diplomasi Nabi ialah memanggil Suhael berdiskusi dengan Nabi.

Setelah itu Rasulullah menerangkan kepada para sahabatnya, mengapa perjanjian itu diterima. Pertama, pencoretan kata bismillahirrahmanirrahim dan kata Rasulullah memang masalah, tetapi lebih besar akibatnya bagi umat Islam jika perjanjian itu ditolak, karena posisi umat Islam masih minoritas.

Berita Terkait : Negara Pancasila (2)

Butir-butir perjanjian itu diterima agar kaum kafir Quraisy Mekkah tidak ditahan di Madinah agar tidak ikut membebani ekonomi Madinah yang sudah dibanjiri pengungsi.

Sedangkan orang Islam yang dibiarkan ditahan di Mekkah pasti akan berusaha menjalankan politik tertentu untuk memecah belah kekuatan kaum kafir Quraisy di sana.

Berita Terkait : Negara Pancasila (1)

Alhasil, semua produiksi Rasulullah benar dan sahabat kemudian mengagumi kecerdasan Rasulullah SAW. Inilah politik Islam. Terkadang harus mundur selangkah untuk meraih kemenangan.

Dalam posisi umat Islam masih minoritas tidak ada cara terbaik kecuali kooperatif dengan keinginan mayoritas, demi menyelamatkan umat. Terkadang juga harus bersabar dan menanti saat yang tepat untuk memulai sebuah strategi baru untuk mencapai kesuksesan menyeluruh. ***