Dampak Teror Virus Jarasanda

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Penelitian biomedis internasional telah berhasil mengembangkan antivirus corona. Vaksin corona pertama siap untuk diuji pada hewan dan sukarelawan manusia dalam waktu dua bulan mendatang. Masih perlu waktu kurang lebih setahun untuk uji klinis memastikan vaksin tersebut aman bagi kesehatan umat manusia. Sebuah kajian ilmiah dengan pendekatan teknik serologis, pemantauan genomik dan melacak mutasi virus ternyata berhasil menciptakan vaksin corona yang ditunggu selama ini. 

“Kita juga berhasil menangkal virus dengan sertifikat bebas corona, Mo,” celetuk Petruk sambil cengengesan. Romo Semar tidak mau komentar gagapnya para pejabat publik menghadapi serangan virus corona. Bicara sekenanya tanpa didukung data ilmiah yang terukur. Alih-alih mencipatakan ketenangan di masyarakat, pernyataan ngawur justru membuat kegaduhan baru. Contohlah bagaimana ketenangan Prabu Kresna menghadapi teror Jarasanda.

Berita Terkait : Geger Anjani Hamil Dan Corona

Kocap kacarito, Prabu Jarasanda raja dari Giribajra ingin menunjukkan  kekuasaannya sebagai raja adikuasa dengan menciptakan teror virus Kalarudra. Menebar rasa takut dengan jalan menangkap seratus raja untuk dijadikan tumbal. Raja yang sudah terkumpul sebanyak 97 raja dari berbagai kerajaan dan dimasukkan dalam penjara sebelum dibunuh. Ketiga raja yang menjadi target Jarasanda yakni Prabu Baladewa dari kerajaan Mandura, Prabu Kresna dari kerajaan Dwarawati, dan Prabu Puntodewa dari Amarta. Jarasanda mengirim Hamsa dan Dwimbaka untuk menaklukkan Baladewa, Kresna, dan Puntadewa.

Jarasanda tidak menyadari kalau ketiga raja yang menjadi incarannya tersebut memiliki kesaktian yang luar biasa. Pasukan Jarasanda di bawah komando Prabu Hamsa dan Dwimbaka kocar-kacir menghadapi perlawanan senopati Mandura dan Dwarawati. Hamsa dan Dwimbaka tewas oleh Prabu Baladewa.  Untuk mencegah teror lebih lanjut, Kresna memilih menyerang duluan ke Giribajra. Kresna tidak mau kecolongan menunggu pembalasan Prabu Jarasanda atas kematian Hamsa dan Dwimbaka. Berangkatlah Kresna ke Giribajra bersama Harjuna dan Bima.

Berita Terkait : Guyon Maton Pak Menteri

Penjagaan pintu masuk Giribajra sangat ketat. Sebelum memasuki tapal batas kerajaan, Jarasanda memasang semacam tambur yang berfungsi sebagai radar. Kalau ada musuh memasuki wilayah Giribajra, tambur tersebut akan berbunyi seperti petir. Kresna dan Bima menyamar sebagai brahmana untuk masuk ke Giribajra. Harjuna diberi tugas mematikan tambur radar yang terpasang di atas bukit Giribajra. Harjuna melepas panah saktinya untuk melumpuhkan radar tambur tersebut. Kresna dan Bima dengan mudah masuk ke Giribajra setelah radar tambur hancur. 

Bima berhasil menangkap Jarasanda. Terjadilah perang tanding di alun-alun kerajaan Giribajra. Dengan waktu yang singkat Bima dapat mengalahkan raja penebar teror. Jarasanda mati dengan tusukan kuku Pancanaka. Prabu Kresna dan Harjuna berhasil membebaskan raja-raja yang ditangkap oleh Jarasanda. Dan kelak para raja yang dibebaskan Kresna dan Harjuna begabung dengan Pandawa dalam syukuran sesaji Rajasuya.

Berita Terkait : Di Korsel, Timbun Masker Didenda 500 Juta Rupiah

“Prabu Kresna dengan tenang mengalahkan terror Jarasanda, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Berbeda dengan kita melawan teror corona,” lanjut Petruk sok tahu. “Benar Tole. Sebetulnya musuh terbesar kita bukanlah virus. Musuh kita sebenarnya adalah kepanikan dan rumor yang beredar di masyarakat. Rumor dan kepanikan hanya bisa dilawan dengan memberikan penjelasan dan informasi yang kredibel dan ilmiah. Bukan informasi yang gagap dan ngawur,” ujar Semar. Oye