Kedalaman Makna Isra Mi`raj (1)

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Q.S. Al-Isra’/17:1).

Jika Allah SWT mengawali surahnya dengan kata subhana atau tabarak biasanya ada makna yang amat mendalam yang tak bisa hanya didekati secara rasional tetapi dengan keyakinan. Ayat di atas salah satu di antaranya. Pertanyaan yang mengusik di dalam ayat di atas, mengapa Allah SWT memperjalankan hambanya di malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan).

Berita Terkait : Cara Nabi Menghadapi Pandemi (2)

Dalam bahasa Arab, kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan; ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu’), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqar rub) kepada Ilahi.

Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna alegoris (majaz) ketimbang makna literalnya, seperti ungkapan syair seorang pengantin baru: Ya lalila thul, ya shubh qif (wahai malam bertambah panjanglah, wahai subuh berhentilah).

Berita Terkait : Cara Nabi Memelihara Daya Tahan Tubuh (2)

Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan, keindahan, kenikmatan, dan kehangatan sebagaimana dirasakan oleh para pengantin baru, yang menyesali pendeknya malam. Dalam syair-syair sufi stik orang bijak (hukama) juga lebih banyak menekankan makna anagogis kata lailah.

Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah (malam) yang selalu menemani kesendirian mereka.

Berita Terkait : Cara Nabi Memelihara Daya Tahan Tubuh (1)

Perhatikan ungkapan Imam Syafi ’: Man thalabal ula syahiral layali (barangsiapa yang mendambakan martabat utama, banyaklah berjaga di waktu malam). Kata Al-layali di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Makna lailah dalam ayat pertama surah Al-Isra’ di atas menunjukkan makna anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the power of night).