Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Fenomena virus sudah diungkapkan dalam Al-Qur’an setidaknya tiga kali. Pertama azab berupa virus ditimpakan kepada umat Nabi Shaleh, yaitu Raja Tsamud bersama para pengikutnya, ditimpakan virus yang diduga bersumber dari sapi ajaib yang muncul dari lubang batu kecil sebagai mukjizat Nabi Shaleh.

Hari pertama kulit mereka berubah menjadi kuning, hari kedua berubah menjadi merah, dan hari ketiga berubah menjadi warna hitam, dan ujung hari ketiga mereka menden garkan suara menggelegar di langit, lalu mereka mati bergelimpangan di rumah mereka masing-masing.

Virus lainnya ditimpakan kepada pasukan Thalut yang menyerang mulut mereka. Virus lainnya muncul dari burung Ababil yang menyerang pasukan Abrahah. Pada masa Nabi juga sudah muncul beberapa macam virus. Sikap Nabi terhadap virus Nabi meminta sahabatnya untuk tidak memasuki suatu wilayah yang terjangkit virus.

Berita Terkait : Bertawashul Melalui Kekuatan Ramadhan (2)

Bagi mereka yang sudah terlanjur memasuki wilayah itu disarankan tidak keluar ke tempat lain. Nabi juga pernah menyerukan: “Larilah kamu ketika berjumpa dengan orang yang berpenyakit kulit menular (aljuzam) sebagaimana engkau melihat singa.

Nabi juga meminta orang yang mele wati tempat bekas penyiksaan umat terda hulu mempercepat kendaraannya. Bekas tempat penyiksaan Abrahah di pinggir Padang Arafah di situ tidak dibenarkan membangun pemukiman atau tempat kegiatan masyarakat.

Kita tidak tahu mengapa Nabi mengatakan demikian. Nabi juga menganjurkan kebersihan lingkungan hidup, misalnya Nabi me larang orang membuang kotoran pa da air yang mengalir dan air yang tergenang. Nabi juga melarang mengganggu pohon dan tanaman yang bermanfaat bagi manusia.

Berita Terkait : Bersahabat Dengan Bala`(1)

Dilarang memusnahkan binatang serangga dan pepohonan dengan meng gunakan api. “Hanya Allah SWT yang berhak menyiksa makhluknya dengan api”, demikian ungkapan kemarahan Nabi terhadap salahseorang sahabatnya yang baru saja membakar sarang semut.

Pola keseimbangan ekosistem selalu mendapatkan perhatian Nabi karena menyangkut kelestarian alam semesta. Nabi juga menegaskan larangan mengkonsumsi makanan haram seperti daging babi, bangkai, anjing, binatang ampibi yang bisa hidup di dua jenis alam, burung yang menangkap mangsanya dengan kakinya, dan makanan lain yang diperuntukkan untuk persem bahan kepada berhala.

Demikian pula minuman atau berbagai konsumsi lainnya yang dominan mengandung alcohol, dan barang yang memabukkan lainnya seperti narkoba. Kesemua jenis makanan yang dilarang agama ternyata berefek buruk bagi manusia jika mengkonsumsinya. ***