Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam Sidang Kabinet 18 Juni 2020, Presiden Jokowi marah-marah. Ada sekitar 10 menit bagian dari kejengkelan dan amarah Jokowi. Begitu kesal dan gundah hati sang Presiden, sehingga ucapan-ucapannya tidak lagi fokus, tapi terus diulang-ulang. Video terkait marah-marah Presiden baru viral (sengaja di-viralkan?) tanggal 28 Juni 2020. Jarak waktu antara kejadian dan viralisasi yang cukup panjang pun mengandung meta-meaning tertentu dari perspektif komunikasi.

Dari perspektif komunikasi Presiden Jokowi termasuk pemimpin yang punya kebiasaan berkomunikasi konteks tinggi, meminjam istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Edward T. Hall, “Context theory”.

Berita Terkait : Ancaman Reshuffle Cuma Gertak Sambel

Orang yang berkomunikasi konteks tinggi biasanya berbicara tidak to the point, tapi suka putar-putar, gemar menggunakan kata atau istilah berbunga-bunga. Kalau marah, ia pandai menutupi amarahnya; selalu berusaha tampil dengan senyum simpatik. Kebalikannya adalah komunikasi konteks rendah: bicara blak-blakan, tembak sini, tembak sana seperti gaya pidato Presiden Donald Trump. Jika marah, ekspresi wajahnya terlihat amat gamblang. Ia nyaris tidak mampu menutupi isi hatinya di depan publik.

Namun, dalam sambutannya di sidang kabinet itu, gaya komunikasi Presiden Jokowi berubah TOTAL: dari high context menjadi low context. Awalnya, ia mengingatkan seluruh peserta sidang kabinet bahwa pandemi Covid-19 di negara kita sampai hari ini masih sangat serius, jangan dianggap enteng. Tapi ironisnya, tuding Presiden, para pembantunya menganggap biasa-biasa saja, normal-normal saja, tidak ada sense of crisis. Ia mengutip data dari satu lembaga internasional yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa minus 7% ! Oleh sebab itu, presiden seperti ingin menggebrak meja: Ayo, BANGUN! BANGUN! Kerja keras, pakai strategi extra-ordinary, manajemen krisis, jangan manajemen biasa- biasa. Presiden juga menyatakan komitmen FULL untuk memerangi Covid-19. Langkah apa pun Presiden siap melakukannya, kalau perlu Perppu, Presiden siap keluarkan Perppu, Ia juga minta para kepala daerah untuk melibas hambatan apa pun yang dihadapinya dalam menangani Covid-19. Keluarkan peraturan apa pun yang diperlukan jika menghadapi kendala struktural.

Berita Terkait : Presiden Harus Tolak RUU HIP!

Nah, di bagian akhir sambutannya, setelah menumpahkan uneg-uneg dan amarahnya, Jokowi mengancam akan mencopot menteri-menteri yang kinerjanya dinilai memble, yang bekerja biasa-biasa saja. Istilah reshuffle [kabinet] muncul dari bibir Presiden. Lembaga-lembaga yang tidak diperlukan, siap ia bubarkan. Yang menghebohkan, ia menyoroti kinerja beberapa kementerian yang mengecewakan. Secara lebih khusus lagi, Ia “hantam” Kementerian Kesehatan! Kementerian yang sudah mendapat alokasi anggaran Rp 75 triliun. Kenapa yang diserap baru 1,53%? Kenapa begitu rendah ??? Pada titik itu, Jokowi nyaris menuding Dr. Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan, sebagai menteri yang JELEK kinerjanya !!

Ketika menyebut Kementerian Kesehatan, kamera pun beberapa kali menyorot wajah Terawan yang nyaris pucat dan tidak ada ekspresi sama sekali. Di sini, Jokowi tiba-tiba mengubah drastis gaya komunikasinya: dari konteks tinggi ke konteks rendah.
 Selanjutnya