Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Itulah sebabnya ada fatwa yang pernah menyatakan jenazah para teroris tidak perlu diurus secara Islam karena perbuatannya sudah keluar dari koridor Islam.

Pembakar emosi umat tidak akan pernah hilang. Semenjak masa Nabi sampai sekarang, selalu ada saja orang yang menjadi faktor dalam terbakarnya emosi umat.

Salah satu contohnya ialah pembuatan film The Innocence of Muslim yang pernah membuat kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Film ini sudah menjatuhkan sejumlah korban, termasuk Duta Besar AS di Libia.

Berita Terkait : Merawat Emosi Umat (3)

Di tanah air kita juga ikut terpicu dengan film tersebut. Sebelumnya, juga ada film Fitnah dan Kartoon yang mendiskreditkan Nabi Muhammad SAW.

Semua bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW selalu menimbulkan reaksi besar umat Islam.Cara paling efektif menghadapi usaha profokasi umat ialah mengendalikan diri, seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW sendiri.

Di dalam Al-Qur’an tidak kurang dari sembilan kali Nabi Muhammad ditunjuk sebagai orang gila (majnun), antara lain: “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (Q.S. Al-Qalam/68: 51).

Berita Terkait : Berbaik Sangka Pada Musibah

Nabi Muhammad tidak pernah be-reaksi keras menanggapi pancingan itu, karena kalau Nabi bereaksi sama dengan membeli jualan mereka. Nabi memilih tidak melayani mereka sehingga jualan mereka tidak laku.

Merawat emosi umat di dalam masyarakat pluralis seperti di Indonesia, amat penting. Negara-negara yang relatif homogen pun sangat hati-hati mengangkat isu yang bisa membakar emosi umat.Indonesia sudah cukup kenyang dengan pengalaman pahit, berupa tragedi kemanusiaan berbasis sentiment keagamaan.

Kasus Poso dan Ambon sudah cukup menjadi pelajaran penting. Sungguh amat benar jika terjadi perang saudara sebagai sesama warga bangsa, pepatah yang mengatakan: ‘Menang jadi arang kalah jadi abu’.

Berita Terkait : Menjadi Selebriti Langit (2)

Pengalaman seharusnya menjadi guru paling arif bagi bangsa Indonesia. ***