Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Emosi umat sebaiknya disalurkan pada hal-hal positif. Seperti saat ini, kita menyaksikan betapa cerdasnya kita sebagai warga bangsa dan juga sebagai warga umat, menyalurkan emosi keagamaan kita untuk membantu satu sama lain untuk meringankan beban hidup sebagian warga kita yang tertekan karena dampak negatif yang timbul akibat virus Covid-19.

Baru-bari ini, Masjid Istiqlal menyelenggarakan Webinar Nasional melibatkan pimpinan umat beragama di dalam ikut serta menanggulani dampak Covid-19.

Berita Terkait : Zaman Ruwaibidhah

Di luar dugaan, peserta dan saran-saran para peserta begitu positif. Perbedaan agama dan kepercayaan tidak menjadi penghalang untuk berbuat baik kepada sesama warga bangsa.Masjid Istiqlal pun kebanjiran bantuan untuk disalurkan kepada mereka yang berhak.

Ini sebuah contoh betapa indahnya jika sebuah bangsa yang heterogen dan plural merajut kebersamaan emosi di dalam meringankan beban sesama warga bangsa.

Berita Terkait : Merawat Emosi Umat (2)

Pemerintah dan masyarakat harus berterima kasih kepada tokoh-tokoh agama yang tidak pernah kenal lelah menyuarakan motivasi kepada umatnya untuk berbagi dengan orang lain.

Mereka sangat didengar ditelinga umat mereka dalam menyuarakan himbauan: Sedikit buat kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Emosi keumatan seperti ini perlu di-rawat dan terus dikembangkan. Mungkin inilah salah satu di antara hikmah musibah pandemi virus Covid-19, bisa menyatukan visi berbagai kalangan yang berbeda.

Berita Terkait : Berbaik Sangka Pada Musibah

Dalam Islam juga lebih terasa, yang sering dikategorikan sebagai kelompok garis keras, moderat, dan liberal tiba-tiba berdiri di dalam saf (barisan) yang sama untuk membebaskan kerisis yang dialami sekelompok umat yang terpapar dengan masalah Covid-19.

Seolah-olah dengan musibah ini membuat berbagai kelompok yang berseberangan menjadi satu.Kita tunggu saatnya, bagaimana kemajuan dan kesejahteraan juga bisa membuat para pihak Bersatu, yakni Bersatu mengangkat martabat kemanusiaan, kebangsaan, dan keagamaan. ***