Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - SUATU ketika Usamah ibn Zaid ibn Haritsah ibn Syarahil Al-Kalbi, diminta menjadi Panglima Angkatan Perang, panglima paling muda yang pernah ditunjuk Nabi dalam sejarah, ketika itu ia baru berumur 17 tahun. Semula ia diprotes tetapi Umar ibn Khathab marah dan mendukung Usamah agar terus menjadi Panglima Angkatan Perang yang sah dan diangkat Nabi.

Ia menjadi Panglima sampai Nabi wafat dan dipertahankan lagi oleh Abu Bakar ketika ia menjadi khalifah pertama. Kelebihan Usamah banyak sekali diungkapkan dalam sejarah. Ia selalu memenangkan peperangan yang dipimpinnya meskipun musuhnya tangguh.

Berita Terkait : Jangan Menghukum Sebuah Keyakinan (2)

Suatu ketika Usamah ibn Zaid menjebak seorang musuh bebuyutan di pinggir tebing. Musuh itu betul-betul terpojok dan tidak ada lagi alternatif untuk me-larikan diri.

Menyadari dirinya dalam keadaan terpojok, maka sang musuh meneriakkan dua kalimat syahadat: Asyhadu anla Ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya).

Berita Terkait : Zaman Ruwaibidhah

Usamah menghunus pedangnya dan tetap membunuh musuh yang bersyahadat tadi. Pemandangan ini dilihat sebagian sahabat dan di antara mereka ada yang melaporkan kepada Nabi, bahwa Usamah membunuh orang yang sudah bersyahadat.

Mendengarkan peristiwa ini, maka Nabi marah besar dan memanggil Usamah. Nabi diketahui marah besar jika urat-urat di dahinya kelihatan melintang.Nabi bertanya kepada Usamah:

Berita Terkait : Merawat Emosi Umat (3)

“Kenapa engkau membunuh orang yang bersyahadat? Usamah menjawab: “Itu musuh yang amat berbahaya dan itu hanya kiatnya untuk menyelamatkan diri”. Ia tidak bisa mundur atau lari karena ia berada dipinggir tebing, satu-satunya cara untuk selamat ialah bersyahadat.***