Etika Politik Dalam Al-Qur’an (29)

Tidak Berlebihan Dalam Beragama

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

 Sebelumnya 
Rasulullah bertanya kenapa? Lalu menjawab habis waktu saya untuk beribadah dan membersihkan diri. Rasulullah menanggapinya dengan agak marah, saya ini Nabi tetapi masih tetap memberikan hak-hak kepada istri-istri saya. 

Dialog Rasulullah dengan sahabat-sahabatnya sebagaimana dijelaskan di atas menunjukkan, beribadah sekalipun jika berlebihan juga tidak baik. Segala sesuatu yang berlebihan (al-ghuluw) adalah tidak baik. 

Baca Juga : HKTI Ingatkan Kepala Daerah Lindungi Lahan Pertanian

Rasulullah pernah bersabda: “Sebaik-baik urusan ialah yang dilakukan dengan biasa-bisa atau sedang-sedang saja, sekalipun itu sedikit”. Apalagi perbuatan yang memperatasnamakan Islam dengan cara-cara kekerasan, seperti pengeboman dan penyanderaan (tasyaddud), sama sekali tidak ada tempatnya di dalam agama. 

Beragama secara berlebih-lebihan tidak sejalan dengan tujuan ibadah, yaitu untuk mewujudkan ketenangan, ketenteraman, kedamaian, dan kebahagiaan. Itulah sebabnya para ulama menetapkan kaedah: Al-Ashlu fi al-‘ibadah al-haram illa ma dalla ‘ala jawazih (pada dasarnya semua ibadah itu haram kecuali yang ada dalil khusus yang membenarkannya). 

Baca Juga : Banyak Hoaks, Sri Mul Minta Anak Buahnya Melawan

Ukuran baik atau buruknya seseorang tidak diukur oleh berlebih-lebihannya seseorang dalam menjalankan ibadah, melainkan secara wajar menjalankan keseimbangan di dalam hidupnya. Rasulullah pernah mengatakan: Khairun nas anfa’uhum lin nas (sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesamanya).

 Dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’un lebih tegas lagi menyatakan, orang-orang yang beragama secara palsu atau kamuflase ialah mereka yang tidak care dengan anak-anak yatim dan fakir miskin.