Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Musibah boleh jadi akan menjadi pemandangan sehari-hari. Entah itu musibah ber asal dari alam semesta yang kelihatannya semakin tidak bersahabat dengan kita, seperti erupsi gunung, banjir, longsor, gempa, dan wabah penyakit, seperti virus Covid-19 yang sedang merebak. Musibah mungkin juga berasal dari kelengahan, kecerobohan, atau kenakalan anak manusia itu sendiri.

Ada beberapa hadis Nabi yang mengisyaratkan musibah akan menjadi pemandangan sehari-hari jika semakin banyak tangan-tangan jahil manusia bergentayangan. Tantangan kita adalah bagaimana beradaptasi dengan musibah. Kedengaran nya aneh tetapi nyata.

Musibah yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.

Berita Terkait : Antara Hijriyah Dan Masehi (1)

Penyakit yang mendera Nabi Ayyub sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya ia dibuang di sebuah gua di pegunungan di luar perkampungan, ia tiba-tiba mengatakan kepada para belatung di sekujur tubuhnya, kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu tetapi kalian tetap betah di tubuhku.

Sekarang kalian bersenang-senanglah, karena ternyata kalian adalah sahabat setiaku. Satu-satunya yang bisa menemaniku di kegelapan gua ini hanya kalian. Ayub tidak lagi merasa sakit dari gigiran belatung-belatung itu.Nabi Yusuf juga pernah berdoa: “Rabal-sijn ahbbu ilaiyya” (Ya Allah penjara aku lebih sukai).

Ini diungkapkan ketika ia dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Ia memilih hidup di ruang gelap dan sempitnya penjara ketimbang ke lapangan dan gemerlapnya istana.

Berita Terkait : Muslim Stateless (2)

Banyak orang yang bukan Nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenangan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin.Rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan hanyalah masalah psikologis.

Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula. Banyak contoh dalam kehidupan kita musibah dijadikan sebagai hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil.

Jangan memusuhi musibah karena pasti terasa lebih sakit. Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera.Nikmati penderitaan itu niscara kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan.Musibah sesunggunya adalah surat cinta Tuhan.

Berita Terkait : Muslim Stateless (1)

Tuhan merindukan hambaNya tetapi undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris, maka Tuhan mengubah surat undangan-nya dalam bentuk musibah.

Musibah adalah ujian keburukan (balaun sayyiah) tetapi mengangkat martabat kemanusiaan. Juga ujian kebaikan (balaun hasanah) tetapi lebih sulit untuk dilu-lusi hamba-Nya, sehingga lebih banyak orang gugur dari ujian kemewahan daripada ujian musibah.***