Agama Dan Pemberantasan Kemiskinan (8)

Semua Amalan Ritual Berujung Pembangunan Karakter Kemanusiaan

SHAMSI ALI
SHAMSI ALI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Langkah ketiga yang harusnya dilakukan untuk memerangi kemiskinan adalah, perlunya keagamaan atau religiusitas kita didefinisikan secara utuh. Kerap agama diidentikkan dengan ritual semata.

Sholat, puasa, dzikir, tahajjud, dan seterusnya sering menjadi dinding-dinding pembatas antara kita dan kebaikan sosial. Padahal sejatinya semua amalan ritual berujung kepada pembangunan karakter kemanusiaan dalam kehidupan sosialnya.

Berita Terkait : Kini Kita Hidup Dalam Sistem Ekonomi Apartheid!

Sholat diawali dengan takbir. Tapi harus diakhiri dengan salam sebagai komitmen sosial kita. Dalam konteks kemiskinan ini, Rasulullah SAW secara khusus mengingatkan: “Tidak beriman di antara kalian yang tidur nyenyak dalam keadaan kenyang, tapi tetangganya kelaparan”.

Peringatan Rasul ini sekaligus mengingatkan kita, agar agama jangan didefinisikan dengan sekedar amalan-amalan ritual. Atau tidak sekadar dengan penampilan lahiriah. Termasuk bentuk pakaian atau panjang pendek janggut seseorang.

Berita Terkait : Kejujuran Beragama Terlihat Dalam Kebaikan Sosial

Pada akhirnya amalan sosial yang terbangun oleh iman, sekaligus aktualisasi pengabdin ritual kepadaNya itulah yang menjadi modal utama keselamatan akhirat.

Jangan sampai sholat, puasa, dzikir, qiyaamullail, dan semua amalan ritual menjadi bangkrut. Karena pelakunya gagal peduli dengan penderitaan sesama di sekitarnya. Keempat, mereka yang diamanahi sebagai “pelayan” (pemerintah) rakyat wajib melakukan tugasnya.
 Selanjutnya