Trust Menghambat KTT Trump-Jong Un

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam komunikasi interpersonal diajarkan trust (kepercayaan) menjadi kunci keberhasilan komunikasi. Jika antar person itu belum ada trust, atau masih rendah tingkat trust-nya, komunikasi antar pribadi sulit mencapai keberhasilan yang diharapkan.

KTT Presiden Amerika, Donald Trump dan Kim Jong-Un, pemimpin tertinggi Korea Utara di Hanoi pekan ini berakhir dengan hasil yang sangat minimal. Memang KTT itu tidak bisa dikatakan gagal total.

Bahwa kedua pemimpin yang “musuh bebuyutan” ini mau bertemu dan bicara 4 mata dari hati ke hati, itu sudah merupakan point yang bagus sekali. Bagaimana pun dialog lebih bagus daripada saking caci maki dari jarak jauh.

Berita Terkait : Robertus, Kebebasan Yang Kebablasan

Kenapa Trump dan Jong-Un gagal mencapai hasil yang diharapkan kedua pihak, juga harapan dunia internasional? Jawabannya sederhana sekali: karena antara kedua pemimpin belum ada trust yang optimal!

Jong-Un minta Amerika mencabut sanksinya terhadap Pyongyang secara total. Trump menolak menenuhi tuntutan Pyongyang.

Kepada awak media, Trump berkata “Saya sebenarnya sangat berkeinginan untuk mencabut sanksi secara total karena negara itu memiliki potensi yang amat besar, tapi kita tidak bisa melakukannya!” Saya siap menandatangani perjanjian tersebut, tapi kita tidak bisa teken sekarang!

Berita Terkait : Enggar Dituding, Enggar Ngeles

Namun rakyat (Amerika) akan mengecam saya karena mereka tahu  what a terrible thing he did! Maka, saya memilih “bertindak tepat daripada bertindak cepat”.

Atas masukan sejumlah pembantu dekatnya, Trump dibisiki jangan cepat percaya pada Jong-Un. Mereka amat meragukan kejujuran Jong-Un untuk melakukan de nuklirisasi secara total, padahal ini tuntutan harga mati pihak Amerika.

Pihak Amerika sejak awal minta diberikan akses untuk menginspeksi fasilitas nuklir Korut di Yongbyon, namun Korut menolak. Beberapa waktu Pyongyang menyatakan sudah membongkar fasilitas nuklir di Yongbyon, namun Washington meragukan kebenaran pengakuan Korut.
 Selanjutnya