Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Banyak pelajaran politik dari Nabi Muhammad SAW yang menarik untuk dikaji dan dijadikan pegangan. Salah satu di antaranya ialah Nabi tidak pernah merespon positif terhadap sahabat-sahabatnya, termasuk anggota keluarganya yang meminta jabatan atau kelihatan terlalu ambisi untuk menjadi pemimpin.

Beberapa hadis Nabi menjelaskan hal ini, antara lain sebagai berikut:Dari abdurrahman bin Samurah, bahwasanya Nabi bersabda: Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Karena jika engkau diberi karena memintanya, niscaya akan dibebankan kepadamu, dan tidak akan ditolong oleh Allah. Tetapi jika diberikan kepadamu tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong oleh allah. (HR. Muslim, dalam kitab Shahih Muslim, Jilid 6, hal. 5).

Berita Terkait : Yang Ambisius Tidak Diberi Jabatan (2)

Dalam hadis lain dijelaskan: Dari Abu Hurairah, mengatakan: Nabi bersabda: Sesungguhnya kalian akan sangat berambisi terhadap jabatan/kekuasaan, dan sesungguhnya jabatan/kekuasaan itu di hari kiamat akan menjadi kerugian dan penyesalan. (HR. Ahmad, dalam Kitabnya, Al Musnad, Jilid16, hal.140).

Dalam kitab Fath Al Bari’ karya Ibn Hajar Al‘ Asqallani dijelaskan, orang yang berambisi untuk meraih jabatan kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong lahirnya fitnah, dapat menyebabkan pertumpahan darah, penjarahan, dan pemerkosaan, dan pada akhirnya menjadi penyebab kerusakan lingkungan alam dan lingkungan sosial.

Berita Terkait : Menolak Nepotisme (2)

Dalam syarah kitab Riyadh Al Shalihin, sebuah kitab yang disusun oleh Syekh Al Nawawi yang sangat masyhur di pondok-pondok pesantren dijelaskan seseorang yang meminta jabatan biasanya karena ingin mempromosikan dirinya di hadapan orang banyak. Kemudian menguasai mereka, lalu memerintah dan membatasi mereka. Ia menegaskan bahwa orang yang ambisi jabatan berpotensi menyengsarakan masyarakat. ***