Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda: Barangsiapa yang mempekerjakan seorang lelaki dari suatu kelompok, dan dari kelompok tersebut sesungguhnya ada yang lebih baik, maka sungguh ia telah menghianati Allah, menghianati RasulNya; dan menghianati semua orang Mukmin. (HR Al Hakim, Al Mustadrak, Jilid 4, halaman 104).

Dalam hadis lain disebutkan: Dari Ibnu Abbas, dari Nabi. Beliau bersabda: Barangsiapa yang mempekerjakan seorang dari kaum Muslimin, dan ia tahu bahwa di antara mereka ada yang lebih baik darinya; dan lebih paham Kitab Allah, dan sunnah Nabi, maka sungguh ia telah menghianati Allah, menghianati rasulNya; dan menghianati semua orang Muslim.(Hadis riwayat Baihaqi, Assunan Al Kubra, Jilid 10, halaman 118).

Berita Terkait : Kedudukan Pemimpin Terbaik (2)

Kedua hadis tersebut di atas menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama Fikih. Apakah boleh menetapkan pemimpin nomor dua sementara ada yang paling baik (nomor satu). Dalam kitab-kitab Fikih Siyasah dijelaskan bahwa mengangkat seorang pejabat yang telah memenuhi kriteria merupakan hal yang sangat fundamental.

Walau demikian, para ulama menyatakan bahwa mengangkat seseorang menjadi pejabat padahal ada yang lebih baik (Imamah Al mafdlul ‘ala alafdhal) hukumnya boleh saja dan kepemimpinannya dianggap sah.

Berita Terkait : Yang Ambisius Tidak Diberi Jabatan (2)

Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Hazm.(Ibnu Hazm, Al-Fisalfial-Milal wa lnihal, Jilid 4, hal. 167). Dasar bolehnya imamah almafdlul ‘ala Al Afdhal tidak bertentangan dengan hadis Nabi di atas yang menyatakan bahwa pemimpin harus yang terbaik karena hadis-hadis tersebut hanya sebagai penekanan saja yang mengarah pada kesempurnaan dan dalam kon disi stabil.

Mungkin saja orang yang terbaik itu menolak atau ada ha-lhal khusus lain yang menyebabkan berhalangannya yang bersangkutan diangkat sebagai pemimpin, misalnya sudah dua kali masa jabatan sebagai pemimpin. Pendapat ini diperkuat oleh Imam Abu Bakaral-Baqillani. ***