DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Daya serang Virus Corona bukan saja mematikan, tapi mampu mengadu domba  antar sesama dan mengubah perilaku seseorang. Tengok Presiden Donald Trump dituduh telah berbohong bahwa Virus Corona tidak mematikan. Padahal Amerika merupakan negara dengan jumlah korban paling tinggi di dunia. Mungkin maksud Trump baik agar rakyatnya tidak panik menghadapi penyebaran virus yang ganas tersebut. Bob Woodward dalam bukunya “Rage" mengungkit kembali interview-nya dengan Trump. Sehingga saling tuduh dan menyalahkan tidak terelakkan lagi. Apalagi Trump berencana maju mencalonkan diri lagi November mendatang. 

“Di sini juga banyak yang tidak akur, Mo. Mereka saling menyalahkan untuk urusan pandemi,” celetuk Petruk. Romo Semar hanya mesem tidak mau komentar. Semar memilih menyeruput kopi pahit dan rebusan pisang. Semar tahu arah pembicaraan anaknya Petruk menanggapi gaduhnya kepala daerah yang dikeroyok tiga menteri. Kepulan asap rokok klobot membuat Semar kembali ke zaman Mahabarata saat terjadinya perang Baratayuda.

Berita Terkait : Tren Jenggot dan Kaktus

Kocap kacarito, Perang Baratayuda terjadi di padang Kurusetra. Perang antar-darah Barata tidak dapat dicegah lagi. Pandawa menuntut kembalinya kerajaan Amarta dan separuh kerajaan Hastina dari Kurawa. Sebelumnya langkah diplomasi untuk mencegah terjadinya perang saudara antarcucu Begawan Abiyasa sudah dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. Pandawa mengirim duta pamungkas Prabu Kresna untuk menemui Prabu Duryudono. Bukan solusi yang ditawarkan, para Kurawa malah menyerang Kresna dari belakang. Mendapat serangan mendadak, Prabu Kresna tiwikrama mengubah dirinya menjadi raksasa dan mengamuk. Untung Dewa Narada mampu meredam kemarahan Prabu Kresna sehingga kerusakan lebih parah dapat dicegah.

Hari kelima perang Baratayuda Duryudono menunjuk Pandito Durna sebagai senopati menghadapi Pandawa. Duryudono tahu persis watak Pandawa sungkan menghadapi gurunya sendiri dalam perang laga. Kresna mengangkat Drestajumpena untuk menandingi Durna. Walaupun tidak imbang kesaktiannya, Kresna tahu kelemahan Durna. Pandito Durna sangat menyayangi anaknya Aswatama. Maka strategi Kresna membuat kegaduhan berita hoaks bahwa Aswatama telah tewas di medan perang. 

Berita Terkait : Putra Minang `Good Looking`

Dugaan Kresna tidak meleset. Begitu Durna mendengar Aswatawa tewas, konsentrasi Durna buyar dan tidak semangat lagi untuk maju sebagai senopati. Tapi Durna tidak begitu saja percaya dengan kabar tersebut. Durna tanya kepada Puntodewa atas kabar tewasnya Aswatama. Durna tahu kalau Puntodewa adalah muridnya yang tidak pernah bohong dalam hidupnya. Melihat gelagat Durna, Kresna lebih dulu menemui Puntodewa untuk bersedia bohong kalau Aswatama mati. Namun Puntodewa tidak mau berbohong kepada Durna. Kresna membujuk negosiasi dengan Puntodewa agar bersedia mengatakan kepada Durna yang mati Hestitama.  Hestitama adalah nama gajah tunggangan raja sabrang sekutu Kurawa yang berhasil dibunuh oleh Bima. Puntodewa tetap kekeh menjawab bahwa yang mati adalah Hestitama saat ditanya Durna. Walaupun dengan suara pelan pada kata “Hesti” dan suara keras pada kata “Tama”.

“Puntodewa setengah bohong Mo saat ditanya Durna," sela Petruk membuyarkan lamunan Semar. "Yang namanya bohong ya bohong tidak ada setengah bohong. Apalagi bohongnya untuk kepentingan sesaat," jawab Romo Semar pendek. Rakyat kita sudah lapar jangan dikasih harapan palsu dengan berbohong. Keberhasilan menghadapi pandemi Virus Corona adalah tergantung bagaimana kita mengelola informasi dengan bijak. Merupakan tugas negara untuk memberikan informasi yang benar kepada rakyatnya dan bagaimana langkah ke depan menghadapi pandemi secara transparan.

Berita Terkait : What`s Up Ahok?

Pemimpin bijaksana dapat memberikan informasi dengan bijak. Dengan informasi yang benar seorang pemimpin dapat menyatukan antara ucapan dan tindakan. Dalam bahasa kawi antara Lati dan pakarti nyawiji. Oye