Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dasar lainnya ialah peristiwa Khalid Bin Walid yang dipilih panglima angkatan perang dalam perang Yarmuk padahal ada sahabat yang lebih tepat untuk kepemimpinan itu, yakni Abu Ubaidah bin Jarrah. (Lihat Abdul Aziz Izzat Al-khayyat, Al-Nizam Al-Siyasifi Al-Islam, hal.166).

Ibn Taimiyah lebih merinci lagi bahwa boleh jadi mengangkat orang yang dianggap paling baik di satu sisi tetapi pada sisi lain ada yang tidak nyaman karena adanya hubungan kekeluargaan atau adanya pemerdekaan, adanya pertemanan, berasal dari kampung yang sama, ada temuan gratifikasi atau sogokan yang diambil darinya baik berupa harta barang atau manfaat maka sungguh ia telah menghianati Allah dan Rasul -nya. (ibnu Taimiyah, Assiyasah Ar-Syar’iah, hal. 17).

Berita Terkait : Gen Politik Kaum Quraisy (1)

Nabi juga menghindari nepotisme. ia sesungguhnya mempunyai keluarga terbaik untuk layak ditunjuk menggantikannya, seperti ia mempunyai anak perempuan cerdas, Fatimah di samping suaminya, Ali Ibn Abi Thalib atau keluarga dekat lainnya.

Bisa saja nabi merekayasa atau memaksakan salah seorang di antara keluarga terdekatnya menjadi pewaris tahta pemerintahan tetapi itu tidak pernah dilakukan. Nabi tidak pernah mengistimewakan salah seorang anggota keluarga atau kolega dekatnya untuk menjabat suatu jabatan struktural atau fungsional.

Berita Terkait : Kedudukan Pemimpin Terbaik (1)

Bahkan ia sendiri tidak pernah membeda-bedakan sahabatnya. nabi pernah memilih panglima angkatan perang seorang anak yang masih di bawah 20 tahun, yang menyebabkan munculnya pertanyaan, kenapa nabi memilih seorang anak muda, bukannya yang senior.

Nabi menjawab pertanyaan itu hanya dengan mengatakan karena Usamah Ibn Zaid seorang profesional di dalam jabatan itu.Standar yang dijadikan acuan oleh nabi dalam memilih seorang pejabat adalah kelayakan bukan karena yang lain.

Berita Terkait : Yang Ambisius Tidak Diberi Jabatan (2)

Hal tersebut dapat dipahami dari penegasan nabi kepada Abu Zar Al-Gifari ketika meminta jabatan, tetapi nabi tidak memberinya karena dianggap tidak mampu.

Soal jabatan politik, nabi tidak pernah menunjukkan isyarat mempersiapkan pengganti atau putra/putri mahkota yang akan menggantikan dirinya sebagai kepala pemerintahan di madinah, meskipun ia mempunyai beberapa kerabat dekat. ***