Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Agak mirip dengan redaksi di atas, dari Muawiah, berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: Sesungguhnya perkara ini (kepemimpinan dan kekuasaan) hanyalah untuk kaum Quraiys, dan tidaklah seseorang memusuhi mereka kecuali Allah akan menyungkurkan wajahnya selama mereka (Quraiys) menegakkan agama.

(Berdasar pada hadis yang disebutkan di atas maka ulama Islam pada umumnya termasuk Ahlussunnah, semua sekte Syiah, sebagian besar kelompok Mu’tazilah, dan mayoritas Murjiah mengatakan bahwa seorang kepala negara di dalam literatur Islam harus berasal dari suku Quraiys.

Berdasar hadis tersebut di atas maka pada umumnya ulama termasuk Ahlussunnah, semua sekte Syiah, sebagian be sar kelompok Mu’tazilah, dan mayoritas Murjiah mengatakan bahwa seorang kepala negara di dalam literatur Islam harus berasal dari suku Quraiys.

Berita Terkait : Partainya Fahri Pro-Dinasti Juga

Kelompok Khawarij secara keseluruhan mengatakan bahwa kepemimpinan tertinggi dalam suatu negara (imamah atau khilafah) bisa saja dijabat oleh se lain kaum Quraiys.

Mereka menyatakan bahwa Islam tidak membedakan seseorang baik dari sisi keturunannya, jenis ras dan sukunya, maupun warna kulitnya.

Semuanya sama saja selama mereka konsisten dengan Al-Qur’an dan hadis Nabi; dan memang layak untuk menjabat sebagai pemimpin. Mereka berdalil dengan satu riwayat yang disebutkan oleh Imam al-Bagdadi bahwa orang-orang Islam telah membai’at Nafi bin al-Azraq, al-Qatariy bin al-Fuja’ah, Najdah, dan Atiyah padahal mereka semua bukanlah keturunan Quraiys.

Berita Terkait : Gen Politik Kaum Quraisy (1)

Allah SWT sendiri pernah menegaskan sebuah ayat: Yang paling mulia di sisi-Ku ialah orang-orang yang bertaqwa kepada-Ku. (Q.S. A-Hujurat/49:13).

Bahkan sebagian ulama dari kalangan Mu’tazilah misalnya Dirar bin Amru al-Gatfaniy mengatakan bahwa jika berkumpul dua calon pemimpin negara yang satunya berasal dari suku Quraiys dan yang lainnya adalah seorang Habasyah, maka yang harus diutamakan adalah yang dari Habasyah karena sangat mudah dicopot bila melanggar aturan yang semestinya dipatuhi.

Berbeda dengan tokoh Mu’tazilah yang lain seperti al-Ka’biy (Abu Al Qasim bin Muhammad al-Ka’biy) mengatakan bahwa dalam kondisi stabil seorang dari suku Quraiys tetap harus didahulukan daripada yang lain, tetapi jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka boleh saja pemimpin tertinggi itu bukan dari kalangan Quraiys. (Muhammad Ra’fat Usman, Riyasah Addaulah fi al-Fiqh alIslami, hal.176). Allahu a’lam. ***