DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Virus Corona selain mematikan juga dapat mempengaruhi daya pikir manusia. Seperti persepsi keliru dan rasa takut berlebihan merupakan pola pikir yang sudah terkontaminasi oleh Covid-19. Gejala ini disebut juga ilusi yang mendalam. Adanya pro kontra pelaksanaan Pilkada Serentak 9 Desember 2020 merupakan contoh bangsa ini sedang mengalami ilusi. Narasi anak bangsa terbelah dalam menyikapi perhelatan demokrasi serentak tersebut. Bagi yang setuju dengan pelaksanaan pilkada serentak semata-mata untuk mengamankan agenda politik. Di sisi lain keselamatan rakyat harus dilindungi karena tujuan bernegara adalah untuk mensejahterakan rakyat. Perdebatan bisa dihindari jika kedua belah pihak saling duduk dan berkomunikasi dengan santun.   

“Pilkada itu sebetulnya untuk apa dan untuk siapa, Mo?” celetuk Petruk. Romo Semar tidak bernafsu untuk mengomentari anaknya Petruk. Romo Semar sedang prihatin dengan dampak resesi ekonomi di depan mata. Kebutuhan sehari-hari sudah tidak kebeli karena terkena PHK. Angka pengangguran bakalan meningkat. Banyak motor ditarik leasing karena tidak bisa lagi bayar angsuran. Kopi pahit dan singkong rebus dibiarkan dingin. Rokok klobot terbakar arang di asbak batok kelapa. Pikiran Romo Semar menerawang saat turunnya Wahyu Ratu Cakraningrat.

Berita Terkait : Hakekat Pamong Dan Prajurit

Kocap kacarito, wangsit para dewa menyebutkan akan turun Wahyu Cakraningrat. Barang siapa yang dapat meraih Cakraningrat akan menjadi raja dan memiliki kekuasaan. Prabu Duryudono mendengar akan turunnya wahyu tersebut. Maka diperintahkanlah Pandita Durna dan Patih Sengkuni untuk mencari di mana wahyu akan diturunkan. Duryudono memiliki kepentingan, setelah dirinya tidak berkuasa lagi maka harus ada penerus untuk mengamankan kepentingannya. Duryudono menunjuk anaknya Raden Lesmana Mandrakumara untuk mengikuti kompetisi.

Wahyu Cakraningrat akan turun di tengah hutan Krendayana. Selain Lesmana Mandrakumara ada dua satria yang ikut berebut mencari wahyu. Raden Samba anak Kresna berniat ngalap wahyu walaupun ayahnya tidak merestuinya. Dari pihak Pandawa mengutus Abimanyu anak Harjuna. Sejak awal para Kurawa sudah bermain curang untuk mengamankan Lesmana. Akses masuk ke hutan Krendayana sengaja ditutup. Hal ini dilakukan untuk mencegah calon lain ikut kompetisi. 

Berita Terkait : Tren Jenggot dan Kaktus

Raden Samba berhasil menyelinap ke hutan Krendayana berkat pertolongan Setyaki. Pasukan Kurawa yang berjaga di pinggir hutan terkecoh. Sedangkan Abimanyu berhasil lolos dari kepungan Kurawa karena kesaktian Gatotkaca. Abimanyu dibawa terbang Gatotkaca untuk bisa masuk hutan Krendayana. Ketiga satria bertapa khusuk menanti turunnya wahyu ratu. Hanya satria yang bersih lahir batin dan dekat dengan rakyat dipilih wahyu Cakraningrat. Lesmana gagal total meraih Cakraningrat. Walaupun Lesmana mengandalkan kekuatan politik bapaknya Duryudono. Begitu pula dengan Raden Samba. Samba anak Kresna merasa jumawa dirinya paling sakti berhak mendapatkan wahyu. Kridaning ati tan kuasa mbedah kutane pasti. Raden Samba justru terpapar tidak terpilih menjadi ratu.

“Cakraningrat memilih Abimanyu karena cerdas dan merakyat, Mo,” sela Petruk. Romo Semar mengamini komentar Petruk sambil menghela napas dalam-dalam. Calon pemimpin masa depan selain dekat dengan rakyat harus cerdas dan visioner. Cakra berarti roda berputar dan ningrat adalah kemuliaan. Roda berputar menggambarkan perubahan zaman. Pemimpin bijaksana harus mampu membaca tanda-tanda zaman. Ajang Pilkada Serentak Desember mendatang merupakan ladang inovasi bagi pemimpin cerdas. Calon pemimpin dapat mengkampanyekan potensi daerahnya. Pertumbuhan ekonomi pasca pandemi akan menyebar merata ke berbagai daerah. Hal ini seiring dengan era normal baru. Ekonomi tidak lagi terfokus pada satu daerah. Para investor akan menanamkan modalnya pada daerah-daerah yang sudah siap dengan protokal era normal baru. Pemodal lebih senang memilih daerah hijau terbuka dan ramah lingkungan. Tidak lagi terfokus pada kota-kota besar dan gedung bertingkat. Oye