Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hadis lain yang lebih tegas ialah dari Ibnu Abbas, menceritakan Nabi pernah bersabda: Barangsiapa yang melihat sesuatu yang ia tidak suka dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar, karena tidak seorang pun yang memisahkan diri dari orang banyak (kelompok) lalu ia mati kecuali matinya mati jahiliah. (HR Bukhari, Sahih Bukhari, Jilid 6, halaman 2616).

Hadis-hadis tersebut di atas sangat jelas menegaskan bahwa menaati pemimpin merupakan sebuah keniscayaan, kecuali jika pemimpin itu nyata-nyata menganjurkan kepada dosa dan kemaksiyatan.

Jika hanya terdapat kesalahan yang tidak nyata-nyata bertentangan dengan ajaran pokok islam, apalagi jika ada hal-hal khusus yang berhubungan dengan melaksanakan suatu kemaslahatan atau penolakan suatu kemudharattan, maka pemimpin tersebut tetap sah untuk ditaati.

Berita Terkait : Batas Tanggung Jawab Pemimpin (2)

Persoalannya ialah seringkali kesalahan kecil seorang pemimpin tetapi didramatisir sedemikian rupa oleh lawan politik sang pemimpin, atau sebaliknya kesalahan besar seorang pemimpin tetapi dikecilkan oleh para pendukung atau tim sukses sang pemimpin.

Perlu ditegaskan bahwa kedua fenome na ini sama-sama melakukan penyimpangan terhadap semangat umum syari’ah yang lebih menekankan obyektifitas yang mengacu kepada kemaslahatan umum dan pencegahan segala bentuk kemudharatan.

Bahaya akan terjadi jika masyarakat selalu berburuk sangka kepada pemimpinnya, atau pujian selangit para penndukung pemimpin.

Berita Terkait : Mau Perpanjang SIM di Jakarta? Datang Aja Ke 5 Tempat Ini

Dalam pandangan islam, menaati pemimpin sama dengan menaati nabi selama mereka tidak memerintahkan hal-hal yang bertentangan dengan substansi ajaran islam. Berbeda jika mereka memerintahkan hal-hal yang dilarang oleh agama, maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan bagi mereka.

Ketika tidak ada ketaatan bukan berarti harus memberontak, tetapi mereka harus dinasehati dengan sabar dan dengan kepala dingin agar mereka insaf; atau diberhentikan dari jabatannya jika memang tidak ada lagi cara dan solusi lain.

Pemimpin yang adil dan bijaksana harus ditaati dan dibantu oleh masyarakatnya termasuk ketika ada kelompok atau oknum yang mencoba untuk melakukan hal-hal yang tidak baik kepadanya seperti melakukan tindakan huru-hara, mengadu domba, memberontak, atau bentuk kejahatan dan penghianatan lainnya. ***