SHAMSI ALI
SHAMSI ALI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ada dua hal yang menggoncang masyarakat Amerika baru-baru ini. Keduanya tergolong “attractive” (menarik) bagi para pelaku media. Bahkan menjadi incaran para komentator politik maupun para aktivis yang berkepentingan.

Pertama, pertemuan dua pemimpin negara yang masing-masing punya ambisi di Hanoi, Vietnam. Tentu dipilihnya negara ini menjadi paradoks tersendiri.

Berita Terkait : Ketidakjujuran Dan Kemunafikan

Vietnam berideolgi komunisme dan anak China di Asia Tenggara. Tentu hal ini senyawa dengan Korea Utara. Sebaliknya bagi Amerika, Vietnam adalah negara di mana pernah mengalami kekalahan dalam perangnya.

Bagaimanapun, tentu menyisakan “luka” dalam yang tidak bakal sembuh. Pertemuan Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jon-Un, untuk kedua lainnya dinilai banyak kalangan sebagai “political stunt” (penampilan politik sandiwara) semata.

Berita Terkait : Kini Kita Hidup Dalam Sistem Ekonomi Apartheid!

Pertemuan yang boleh jadi empat tahun lalu dianggap sebuah kemustahilan. Selama dua hari sirkus politik internasional itu, ternyata berakhir tanpa hasil yang diharapkan. Tentu terkecuali mengangkat popularitas keduanya.

Bagi mayoritas bangsa Amerika, pemimpin Korea itu adalah sosok diktator yang sedang dipopulerkan oleh Donald Trump. Tentunya, Trump juga kembali menggandeng melalui political stunt itu.
 Selanjutnya