DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tegaknya sebuah negara tidak terlepas dari pikiran dan perilaku luhur. Pahlawan adalah orang yang berani berkorban tanpa pamrih dalam membela kebenaran. Menghormati para pahlawan yang telah berjasa kepada negara merupakan kewajiban dan teladan dalam berbangsa. Tapi kalau kita lihat kegaduhan di Taman Makam Pahlawan minggu lalu, ada rasa miris di tengah pandemi yang tidak kunjung henti. Terlepas siapa yang benar dan siapa salah. Tidak sepantasnya rakyat disuguhi adegan dorong-dorongan antara  purnawirawan dan prajurit. Sepertinya sudah tidak ada lagi ruang untuk berdialog mencari solusi.

“Itu bukti kekejaman Covid-19 telah merusak alam pikiran manusia, Mo,” celetuk Petruk. Budaya “mikul duwur mendem jero” sudah sirna di bumi nusantara ini," papar Petruk. Romo Semar tidak mau komentar banyak untuk menanggapi kegalauan Petruk. Semar sendiri pernah mengalami hal yang sama saat berbeda pandangan dengan Prabu Kresna.

Berita Terkait : Berburu Wahyu Ratu

Kocap kacarito, Semar merupakan titising Dewa Ismaya yaitu pamongnya para satria luhur. Sedangkan Prabu Kresna merupakan pangejawantahan dari Dewa Wisnu yakni Dewa Perang atau prajurit. Suatu saat keduanya salah paham. Kresna menganggap Ismaya sudah paripurna tugasnya dan sudah tidak pantas lagi menjadi pamong. Tugas Semar hanya sebagai pembantu atau batur. Karena sudah tua dan tidak berguna lagi. Di sisi lain, Semar menganggap Kresna lancang dan tidak menghormati senior lagi. Semar dan Kresna tidak saling tegur sapa. Semar stres dan akhirnya sakit parah. 

Beberapa bulan setelah konflik Semar dan Kresna berlangsung, kerajaan Dwarawati diserang musuh dari kerajaan Atas Angin. Prabu Asmarasanta dari kerajaan Atas Angin ingin menangkap Prabu Kresna karena dianggap tidak cakap memimpin Dwarawati. Mendapat serangan mendadak, pasukan Dwarawati kocar-kacir. Prabu Kresna memilih melarikan diri ke Amarta untuk meminta bantuan para Pandawa.

Berita Terkait : Tren Jenggot dan Kaktus

Pada waktu bersamaan Para Pandawa sedang galau memikirkan Semar yang sedang sakit parah. Puntodewa menolak secara halus tidak bisa membantu Kresna. Akan tetapi Bima dan Harjuna diperintahkan pergi ke Dwarawati untuk mengusir Asmarasanta. Kesaktian Bima dan Harjuna tidak mampu mengalahkan Prabu Asmarasanta. Bima merasa kalah dan disuruh mencari obat untuk kesembuhan Semar. Sedangkan Harjuna diminta kembali ke Amarta. Kresna sendiri dikutuk menjadi raksasa dan tidak bisa bergerak ke mana-mana.

Bima pergi menghadap Shang Hyang Wenang untuk minta obat kesembuhan Semar. Hyang Wenang tidak lain adalah bapaknya Semar memberikan bunga Panca Jaya. Panca artinya lima dan Jaya bermakna unggul. Dengan berbekal bunga Panca Jaya, Bima langsung menuju Klampis Ireng untuk mengobati Semar. Setelah ditetesin bunga Panca Jaya, Semar sembuh dan pulih kembali. Mendengar Kerajaan Dwarawati diserang musuh, Semar pergi ke Dwarawati untuk melawan Prabu Asmarasanta. Kesaktian Semar dan Asmarasanta seimbang namun dalam pertempuran tersebuqapat dikalahkan. Prabu Kresna merasa berutang budi kepada Semar dan minta maaf atas kekhilafan selama ini.

Berita Terkait : Bohong Demi Pandemi

“Perilaku saling menghormati antara yunior dan senior perlu dicontoh, Mo," celetuk Petruk membuyarkan lamunan Semar. Saling mamanfaatkan merupakan perilaku luhur. Negara ini dibangun atas dasar saling menghormati bukan saling membenci. Coba tengok tiga kepemimpinan negeri ini turun dengan diiringi rasa benci. Purnawirawan bukan berarti sudah purna tugasnya. Purnawirawan masih diperlukan sebagai pamong atau tukang ngemong prajurit. Begitu pula sebaliknya prajurit yang diemong harus bisa mikul duwur mendem jero. Artinya perilaku baik dari senior dijadikan teladan. Sedangkan perilaku tidak baik dikubur dalam-dalam.  Jangan pernah menistakan orang-orang yang pernah berbuat baik bagi bangsa dan negara ini. Oye